KONTEN CURHAT

August 15, 2020


Saya menantang diri untuk lebih banyak menulis konten-konten ulasan dan saya bangga bisa terus menuliskannya—walaupun kadang tak patuh dengan jadwal posting yang seminggu sekali itu. Toh, karantina ini saya banyak nonton film, serial, dan berusaha belajar membaca kembali dengan goal satu buku satu bulan. Konten untuk diulas pasti tersedia walaupun ada kalanya saya kesulitan mencari karena buku yang dibaca atau film dan serial yang ditonton tidak menarik untuk dibahas. Itu menjadi alasan kenapa saya tidak menulis minggu lalu dan konten kali ini berisi curhat.

Dihitung sejak hari pertama keputusan belajar dari rumah oleh universitas, berdasar perhitungan saya minggu ini berarti sudah enam bulan saya #dirumahaja. Kurun waktu enam bulan ini saya beberapa kali merasa jenuh, bosan, dan rindu bercengkrama dengan teman-teman. Namun, saya mengakui bahwa most of the time, I enjoy being at home doing chores and  other routines. Justru saat ini saya malah dihantui oleh perasaan cemas untuk kembali menjalani kehidupan normal. Bagaimana dengan rutinitas yang sudah saya bangun? Apakah saya akan tetap bisa membaca satu buku dalam satu bulan? Apakah saya mampu untuk terus menulis jurnal harian dengan kesibukan di luar?

Perasaan cemas itu diikuti oleh fakta jika semester ini—jika segalanya lancar seperti rencana–merupakan semester terakhir saya di kampus. Saya takut dengan tugas akhir, jelas itu. Tapi yang paling menakutkan adalah status pengangguran yang akan saya sandang setelahnya. Sebagai informasi, usia saya ketika lulus besok bukan usia anak-anak fresh graduate kebanyakan, thus, I feel a rush to be immediately graduated from uni and get a job.

Selain itu—ampun lah, banyak banget kecemasannya, ketika menelepon nenek Idul Adha kemarin, saya ditagih kapan akan melepas status lajang. Saat ini saya masih bisa berlindung di balik Kartu Tanda Mahasiswa dengan beralasan ingin menyelesaikan kuliah. Lah, nanti kalau sudah lulus saya harus menyiapkan alasan apa lagi? Sadar akan hal itu, saya akhirnya memutuskan untuk mengelaborasi sebuah jawaban yang bisa menjawab pertanyaan itu dengan diplomatis. Sampai saat ini sih, saya masih kesulitan mendapatkannya.

Masih banyak kecemasan yang saya rasakan, sebenarnya. Malu tapi kalau mau ditulis. Belum nyaman untuk membagikan kelemahan dan struggle yang dialami. Begitu, lah Lia. Maunya terlihat kuat padahal gembeng dan manja.

You Might Also Like

0 COMMENTS