SUCH A FUN AGE: WHAT IS A 'HAPPY ENDING'?

July 12, 2020


Sebelum buku ini, saya telah menyelesaikan satu novel yang tokoh utamanya merupakan orang Afrika-Amerika. I was going to review it, I remember I had lots of thought about reading a novel with an African-America as the central character. Entah kenapa saya tidak pernah menuliskan konten tersebut. Hanya sempat memberi bintang di Goodreads dan memberi judul postingan yang kontennya berakhir wacana. Hal yang sampai saat ini saya ingat adalah: betapa sulitnya saya membangun karakter tersebut nyata di kepala saya. Sepanjang membaca, yang saya bayangkan selalu perempuan kulit putih. Baru saya sadari jika selama ini saya tak terbiasa membaca novel yang tokoh utamanya bukan Caucasian. 

Sadar dengan hal itu, saya tahu jika harus ada perubahan segera. Tapi, kisah klasik seorang Lia terjadi kembali. Saya disibukkan dengan rasa malas yang menyerang ketika UAS datang. Jadi, sebenarnya bukan sibuk dengan segala paper lalu tidak bisa membaca. Di akhir Juni lalu, saya akhirnya kembali menyentuh tablet saya untuk membaca novel. Niat untuk mencari bacaan dengan tokoh utama seorang Afrika-Amerika belum kembali di ingatan. Jadi, ketika memutuskan untuk membaca Such a Fun Age dari sederet judul yang ada, saya merasa diingatkan kembali jika ada resolusi yang harus dicapai.

Such a Fun Age merupakan novel debut Kiley Reid. Secara garis besar novel ini bercerita tentang Emira, perempuan Afrika-Amerika berusia 25 tahun yang bekerja sebagai babysitter keluarga Chamberlain yang merupakan orang kulit putih. Cerita soal rasisme sejak chapter awal sudah muncul dan makin membaca, pembaca disuguhkan dengan masalah-masalah rasial yang muncul di kehidupan sehari-hari Emira dan tokoh kulit putih seperti Alix Chamberlain dan Kelley Copeland. 

Di Goodreads, saya memberi empat bintang untuk novel ini. Tidak sempurna karena di awal saya merasa bosan dengan penjabaran panjang lebar latar belakang para tokohnya dan ada beberapa bagian yang menurut saya terlalu dramatis. Lepas dari itu, Such a Fun Age menurut saya merupakan bacaan kontemporer dengan bumbu romansa yang sempurna untuk menggambarkan bagaimana tokoh kulit hitam hidup di tengah-tengah rasisme di Amerika.

Hal yang paling saya suka adalah akhir ceritanya. Saya selalu komplain dan nyinyir kalau membaca atau menonton kisah seseorang yang awalnya struggling lalu di akhir everything comes together. Soalnya, ya, di hidup tuh jarang begitu. Atau setidaknya di hidup saya, nggak ada satu momen dimana saya merasa semua hal baik-baik saja. Makanya, saya nggak suka the so-called 'happy ending'. Dan akhir cerita Such a Fun Age benar-benar membuat saya puas. Tidak semua hal harus ada resolusinya. Atau lebih tepatnya, tidak semua resolusi dari masalah yang muncul terlihat indah dan membuat bahagia.

You Might Also Like

0 COMMENTS