REVIEW: ASIATICAL'S ORGANIC FACE MASK

July 19, 2020


Ingredients: Extract Herbal Powder, Oryza Sativa Flour, and Traditional Natural Materials.

NO Parabens, SLS, Petroleum, Mineral Oil, Gluten, Artificial Color, Fragrance, Preservatives, Animal Testing. 

Sebelum jauh membaca review ini, saya ingin bilang kalau saya nggak mencari tahu lebih dalam tentang produk ini selain kolom penilaian produk Asiatical's Organic Face Mask di salah satu marketplace. Hingga saat ini saya dan adik saya yang sudah sebulan memakai Asiatical's Organic Face Mask tidak menemukan masalah atau reaksi-reaksi aneh muncul di wajah sejak pertama kali pemakaian.

Saya sebenarnya tidak sengaja menemukan produk ini. Tadinya hendak mencari daun teh hijau karena persediaan di rumah sudah habis, tapi demi gratis ongkir, saya akhirnya juga sekalian beli si Asiatical's Organic Face Mask. Hal yang membuat saya tidak pikir dua kali sebelum membeli adalah harganya murah, yaitu sekitar Rp 2.500-Rp 4.000 saja. Bungkusnya pun kecil, jadi kalau sampai tidak cocok nggak rugi-rugi amat, lah. Ketika memilih varian masker, saya pokoknya mencari yang tidak mengurangi minyak atau ditujukan untuk kondisi-kondisi kulit khusus lainnya karena kebetulan tipe kulit saya normal.

Pertama kali mencoba saya pikir aromanya bakal mirip dengan yang ada di varian produknya, tapi ternyata aroma tepung yang dominan. Untuk saya sih, nggak terlalu mengganggu. Tapi, di kolom deskripsi produk Asitatical's Organic Face Mask, mereka memang udah bilang kalau kadang ada orang yang nggak bisa aroma masker alami. Solusi yang ditawarkan mereka adalah dengan menambahkan essential oil  

Di belakang kemasan ada petunjuk cara pemakaian yang waktu itu saya ikuti. Namun, hasilnya ternyata masih terlalu cair. Akhirnya saya modifikasi saja. Takaran air sama seperti yang dianjurkan, tapi takaran produknya asal-tekstur-agak-kental-dan-bisa-diaplikasikan-di-wajah. Untuk mencampur masker, saya pakai air dengan kandungan oksigen yang bisa dibeli di minimarket terdekat. Saran saya airnya kalau bisa air yang dingin, jadi waktu masker diaplikasikan berasa adem dan segar.

Karena saya beli yang klaimnya mencerahkan, hasil setelah menggunakan masker ini menurut saya—dan adik saya—sesuai dengan klaimnya. Setelah menunggu kering, lalu dibilas, saya merasa wajah lebih bersih dan cerah. Cuma, masker ini agak berantakan. Ketika menunggu keringnya masker yang masih basah, pasti ada beberapa spot yang sudah kering duluan, kan, ya. Nah, spot yang sudah kering duluan ini, apalagi kalau lagi maskeran sambil ngobrol, senyum, bakal rontok. Tapi, sekali lagi, ini nggak jadi hal yang mengganggu karena sudah bisa saya siasati.

Dengan ingredients yang semuanya bahan alami, mereka mencantumkan di kemasan jika masker ini bisa dipakai setiap hari, maksimal satu kali. Saya sendiri pakai masker ini tiga hari sekali, bergantian dengan masker lain yang sedang saya gunakan. Lalu, ada satu poin di petunjuk pemakaian yang bilang kalau masker ini expired setelah tiga bulan dibuka. Menurut saya ukuran 15 gram yang murah meriah ini kalau digunakan rutin dua kali sehari habisnya nggak sampai tiga bulan, jadi nggak buang-buang produk nantinya. Apalagi dengan model kemasan ziplockAsiatical's Organic Face Mask jadi mudah disimpan dan tidak makan tempat. 

A steal banget sih, kalau buat saya. Mana variannya banyak banget dan kita bisa campur maskernya sesuai dengan kebutuhan kulit. Lumayan, lah, untuk menambah rutinitas dan seru-seruan mencoba masker selama pandemi sekaligus merawat kulit dengan biaya yang nggak banyak.

You Might Also Like

0 COMMENTS