THE SURVIVAL PLAN

May 03, 2020


When you think everything is all figured out, the world starts to crumble. Itu yang saya rasakan menuju bulan ketiga #dirumahaja ini. Satu bulan saya malas-malasan, mengerjakan tugas di menit-menit terakhir, main game seharian, dan akhirnya di bulan kedua saya mulai mendapat ritme hidup yang cukup menyenangkan. Saya tahu jam berapa saya bisa fokus untuk mengerjakan tugas, bagaimana membagi waktu, dan ketika semua kewajiban telah selesai, main The Sims adalah reward yang saya berikan untuk diri sendiri.

Saya akan menjadi orang yang mungkin akan dibenci, atau bagaimana mendeskripsikannya dalam kata-kata yang tepat, ya? Intinya saya bukan salah satu yang menikmati bulan Ramadan, sebenarnya. Kebetulan keluarga saya sangat menikmati khidmatnya bulan suci ini. Empat member di rumah ini dan hanya saya yang menggerutu ketika hari pertama Ramadan datang. Alasan saya tidak menyambut bulan yang katanya penuh berkah ini sangat teknis: banyak waktu yang terbuang untuk melakukan ritual-ritual kecil yang membuat bulan Ramadan terasa menyenangkan. Menyiapkan buka puasa, makan malam bersama, salat berjamaah bersama. I feel like an ass for saying this, honestly.

Rutin yang akhirnya saya bangun setelah sebulan berusaha untuk beradaptasi hanya bisa saya terapkan satu bulan saja. Sekarang saya harus mengatur strategi lagi untuk bisa bertahan hidup dengan kesibukan ritual ini dan tugas yang makin menggila. Hal ini yang mungkin membuat saya di rumah jadi tertekan, gampang marah, dan terganggu dengan hal-hal kecil yang seharusnya tak perlu dihiraukan.

Padahal, untuk menjaga kewarasan, saya benar-benar tidak membuka sosial media secara rutin. Hanya sesekali jika sedang hyped up setelah mengkonsumsi kafein atau ketika mempromosikan tulisan terbaru di blog. Sumber berita saya hanya breaking news yang muncul di LINE dan dari orang tua. Dan saya kira ini cukup untuk membuat saya waras. Jemawa memang Lia ini.

Seorang dosen memberikan tugas yang tak cukup jelas dengan bahan yang amat banyak. Lalu ada kesalahan komunikasi soal tugas yang membuat saya tiba-tiba menjadi punya tenggat waktu singkat untuk menyelesaikannya. Belum lagi minggu ini adalah tugas tim saya untuk mengisi konten media sosial kantor. Semuanya tiba-tiba berdatangan di kala saya kewalahan mengatur jadwal.

Karantina membuat saya tidak bisa lari dari kenyataan dan hangout di luar bersama teman. Mungkin beberapa waktu hal itu memang bisa jadi jalan keluar. Namun, saya sering juga mengalami saat ketika mengobrol dan mencurahkan kesulitan pada orang lain tak lagi membuat masalah saya dapat teratasi. Jadi, mungkin karantina ini adalah momen tepat untuk mengajarkan diri ini satu jurus bertahan hidup yang penuh dengan hal-hal tak menentu dan bisa mengubah rutinitas hidup. I guess the plan is no longer to wake up at eight, then having breakfast while writing my journal, taking shower, and heading to website where I can check my online assignments. The plan is now simple: to survive.

You Might Also Like

0 COMMENTS