LOVE QUESTION MARK

April 26, 2020


The Bride Test adalah novel kedua Helen Hoang yang saya baca dan kebetulan juga merupakan sekuel lepas dari novel pertamanya, The Kiss Quotient. Padahal saya tidak berencana untuk membaca berurutan begitu. Sebuah kebetulan yang menyenangkan. 

Oh iya, beware of spoilers, ya.

Menurut saya Helen Hoang punya tiga ciri khas. Pertama tokoh utamanya adalah orang Vietnam --atau keturunan Vietnam, yang kedua adalah penjabaran hubungan seksual yang cukup detail. Kedetailan deskripsi hubungan seksualnya lebih ke tipikal yang halus, sih. Eksplisit, tapi halus. Dan yang menurut saya paling menarik, dari dua buku yang telah saya baca salah satu tokoh utamanya adalah orang autistik.

Walaupun faktanya saya perlu dua bulan untuk selesai membaca ini --distraksi untuk main The Sims itu selalu mengalahkan saya, tapi buku ini sebenaranya adalah bacaan yang bisa dibaca satu kali duduk. Saya menikmati membaca The Bride Test karena bahasanya mengalir dan adegan steamy-nya nampol. Bahkan saya kadang sampai geli-geli sendiri saat membacanya. 

Tapi, saya pun juga kadang merutuk kesal saat membacanya.

Di buku ini saya sebenarnya tidak terlalu nyaman dengan premis ceritanya. Karena pertama, walaupun tokoh utama perempuannya orang Vietnam, ia mewarisi warna mata ayahnya yang orang Amerika, yaitu hijau. Ciri khas ini, yang membedakan dia dari kebanyak orang Vietnam lainnya, akhirnya membuat si heroine mendapat kesempatan untuk dijodohkan dengan si tokoh utama pria yang merupakan seorang autistik. 

Perjodohan, mimpi si heroine untuk lebih mendapatkan kesejahteraan setelah menikah dan tinggal di Amerika, si tokoh laki-laki yang kesejahteraannya jauh di atas si perempuan. Sejujurnya, awal-awal membaca saya sudah ingin menyerah. Dan itu yang mengantarkan kita pada pembahasan utama tulisan ini.

Konflik yang dibangun di novel ini memuncak ketika si heroine mengungkapkan perasaan cintanya dan si laki-laki tidak membalasnya karena percaya bahwa hatinya yang sekeras batu itu tidak mampu mencintai si perempuan. Namun, si laki-laki tetap melamar dengan alasan untuk membantu si perempuan mendapat green card. Marah lah, si perempuan.

Adegan yang paling membuat frustasi adalah ketika si laki-laki ini melamar si perempuan untuk kedua kalinya. Mereka ternyata menyadari merindukan kehadiran satu sama lain dan rasa rindu yang memuncak itu mengantarkan mereka pada foreplay. Di tengah engahan penuh nafsu itu, si heroine berusaha mendorong si laki-laki untuk mengatakan sebaris kalimat paling ajaib dan romantis. I love you.

..."Say it one time. Just one time." Once would be enough.
His lungs gusted as he stared deep into her eyes. "I missed you."
.... "And?"
He swallowed loudly. "I want you."
... "And?"
He shuddered, and his eyes went dark. "I need you."
... "And?" Her throat swelled as disappointment threatened. Say it, just say it. Why wouldn't he say it?  – Chapter 24 


Saya sejujurnya merasa terganggu karena si perempuan tahu kalau si laki-laki ini merupakan seorang autistik dan mengklaim jika tetap sayang pada laki-laki ini. Namun, si perempuan tidak mencari tahu apa itu autisme, bagaimana menghadapinya --dengan alasan she loves him despite, dan tidak ada dialog kenapa si laki-laki ini tidak bisa mengatakannya.

Padahal menurut saya, if the woman cares enough, she would at least try to ask why. Why wouldn't he say the eight letters word? Is it because he is autistic? Or maybe something else?

Hal ini sangat mengganggu buat saya. Sampai saya waktu itu gemas sendiri dan akhirnya memutuskan untuk berhenti sejenak agar tidak terbawa emosi. Hingga akhir cerita, ketika si laki-laki berhasil mengatakannya, itu juga bukan karena si perempuan tahu permasalahan kenapa si laki-laki ini tidak bisa berkata I love you. Bukan juga karena si laki-laki akhirnya sadar bahwa komunikasi ternyata penting untuk membangun relasi dan menjelaskan kenapa ia tidak bisa mengatakan hal tersebut sebelumnya.

Di novel The Kiss Quotient, ulasan singkat saya di Goodreads adalah bagian akhir yang terasa terburu-buru. Saya merasakannya juga di novel ini. Tiba-tiba masalah yang dibangun pelan itu diselesaikan sekejap mata. Dengan tokoh laki-laki yang akhirnya bisa berkata saya cinta kamu, masalah selesai. Empat tahun kemudian mereka masih bersama.

Jadi, saya malah bertanya-tanya. Apa sih definisi cinta si tokoh perempuan ini? Padahal, jelas, si laki-laki sudah memperlihatkan isi paket cinta yang biasanya terdiri dari I want you, I need you, I missed you. Dan yang menjadi pertanyaan paling besar adalah:

Kenapa kalimat 'I love you' itu sangat penting?

You Might Also Like

0 COMMENTS