#DIRUMAHAJA MINGGU PERTAMA & KEDUA

April 08, 2020


Masuk di minggu keempat #dirumahaja, saya memutuskan membuat tulisan untuk meninjau kembali apa yang sudah saya lakukan di minggu ketiga--atau mungkin dari minggu pertama saja kali, ya, supaya apa yang saya catat di buku harian selama karantina mandiri ini bisa dijadikan isi konten. 

Sebelumnya, saya akan melakukan kilas balik beberapa hari sebelum minggu pertama #dirumahaja. Jadi, di hari Jumat yang menjadi hari terakhir saya jajan pecel di warung dekat kampus bersama teman-teman, saya mengobrol soal Covid 19 ini dan berspekulasi kapan Indonesia akan memberlakukan karantina mandiri. Waktu itu saya masih bisa bercanda mengatakan bahwa Indonesia sebentar lagi akan mulai meliburkan kampus dan sekolah serta memberlakukan kerja-kerja di rumah.

Jumat saya bersenda gurau seperti itu, Senin perintah untuk menetap di rumah diberlakukan oleh pihak kampus. Cepat sekali. Saya sampai tidak menyangka dari Jumat yang sepertinya hidup masih ayem-ayem saja, Senin saya sudah dikerangkeng disuruh menghadap laptop untuk sesi belajar di rumah.

#DIRUMAHAJA MINGGU PERTAMA


Selama minggu pertama ini saya merasa bersalah karena merasa senang dengan kebijakan belajar di rumah. Saya nggak perlu ke kampus, tidak perlu bersosialisasi dengan teman dan dosen secara langsung, tidak perlu tidur di kelas....sempurna. Semester lima dan enam ini saya entah kenapa malas sekali kuliah, belajar, dan lain sebagainya. Sudah bosan.

Namun, saya sadar jika kebijakan ini membuat banyak orang menderita. Seperti teman saya yang ke kampus untuk melarikan diri dari kondisi rumah yang menurutnya membuat frustasi, hingga ibu-ibu yang menjual nasi balap di samping kampus. Teman saya mengeluh di chatroom jika ia tertekan karena tidak bisa keluar rumah, ibu nasi balap di samping kampus saat saya lewat beberapa hari setelah kebijakan belajar online dilaksanakan terlihat masih menunggu pelanggan hingga pukul sebelas. Padahal, biasanya dagangan ibu itu begitu laris hingga jam setengah sepuluh saja kadang sudah habis.

Bagi homebody seperti saya, ditambah dengan kecemasan-kecemasan yang saya miliki ketika bersosialisasi, kebijakan ini serasa surga. Kalau kata saya dan teman-teman yang hobinya sama, goler-goler di rumah, kebijakan ini melegalkan hobi kami. Tadinya merasa bersalah, sekarang justru dianjurkan oleh pemerintah. 

Lalu, saya yang kebetulan di minggu pertama itu sedang sakit panas, sedikit batuk, sedikit pilek, jadi parno sendiri. Mana teman saya di kampus yang Jumat itu masih makan pecel dengan saya menunjukkan banyak gejala yang mirip sekali dengan Covid 19. Parno berat, saya benar-benar menerapkan hidup sehat dan berusaha untuk tidak keluar. Tapi, orang tua saya saat itu malah menertawakan keparnoan saya. Lucunya, di setiap group chatrooms, teman-teman saya juga mengeluhkan hal yang sama. Kami yang parno, orang tua mengolok-olok.

Rangkuman selama minggu pertama #dirumahaja: senang, merasa bersalah, parno, dan sebal.

Tapi, saya akhirnya bisa menyelesaikan satu buku self-help. Bangga sekali.

#DIRUMAHAJA MINGGU KEDUA

Kebetulan saya sedang datang bulan, jadi rasa malas yang dari kemarin sudah mengintip akhirnya lepas begitu saja. Kasihan, ya, datang bulan dijadikan kambing hitam. Yang jelas, saya kalap main The Sims! Minggu kedua ini saya bertekad untuk bisa membuat rumah dari nol. Youtube history saya penuh dengan konten-konten speed build dari berbagai nama Youtuber. Ditambah dengan saya yang ingin bermain tanpa motherlode atau rosebud, saya setiap hari mengumpulkan uang untuk bisa membangun rumah yang layak dihuni.

Tugas-tugas saya tak tersentuh dan dikerjakan jika tenggat waktu sudah di depan mata. Padahal minggu kemarin saya cukup produktif dengan membaca buku dan membuat tugas tepat waktu--bahkan setelah diberikan saya bisa langsung kerjakan saat itu juga. Pencapaian di minggu kedua ini adalah saya berhasil membangun rumah dari nol dan menurut saya penampakannya tidak memalukan. Skill untuk roofing memang belum saya kuasai, tapi setidaknya saya bisa akhirnya bikin island besar di tengah dapur. 

Hal yang membuat saya lumayan senang--walaupun senangnya tidak karena alasan yang menyenangkan, adalah yang parno akhirnya bukan saya sendiri! Orang tua saya akhirnya juga ikut parno. Satu rumah kini punya visi dan misi yang sama. Mencuci tangan lebih sering, mandi sehabis keluar rumah, memakai masker, dan tidak keluar rumah jika tidak perlu-perlu sekali.

Stay safe and healthy, everyone!

You Might Also Like

0 COMMENTS