30 HARI #DIRUMAHAJA

April 17, 2020

Kemarin, tepat sudah satu bulan saya di rumah sejak kampus memberlakukan kegiatan belajar jarak jauh. Sejujurnya saya merasa cepat sekali waktu berlalu. Mungkin karena saya menikmati waktu di rumah ini dengan berbagai aktivitas pembunuh waktu yang menyenangkan. Kadang terlalu menyenangkan hingga saya merasa bersalah karena situasi saat ini sedang kacau dan tak menentu.

Jadi, agar tulisan ini tak repetitif seperti dua tulisan lainnya, saya mencoba untuk mencatat apa saja yang membuat saya bisa betah di rumah dan sedikit melupakan yang terjadi di luar sana. Karena jujur saja, begitu keep in touch dengan dunia nyata rasanya langsung tertekan. Melihat ketidakpastian, orang-orang ignorant, dan pemerintah yang...ya begitu, lah.


1. Reading
Saya mulai membaca lagi. Demi menunjang perkuliahan, referensi bacaan saya saat ini adalah Bahasa Inggris. Tumpukan novel di dalam lemari saya singkirkan dulu. Fokus utama saya adalah memperkaya kosa kata dan meluweskan bahasa agar jika menulis skripsi nanti, tidak bingung lagi.

Untuk genre, saya mencoba membaca buku self-help yang dari dulu tidak pernah saya lirik. Ada kecemasan bahwa saya akan menelannya mentah-mentah dan tidak menganalisanya terlebih dahulu. Itu dulu. Sekarang saya akhirnya memberanikan diri untuk membaca buku self-help dan ternyata tidak terlalu buruk juga rasanya membaca orang menguliahi diri ini. Buku self-help pertama yang saya baca adalah The Subtle Art of Not Giving a F*uck yang ditulis Mark Manson. Menurut saya sebagai pembaca pertama buku self-help buku ini sangat bagus. Coba nanti saya review dan tulis lebih dalam lagi di postingan selanjutnya.

Lalu, genre selanjutnya adalah....romance. Saya sedang membaca The Bride Test-nya Helen Hoang. Hingga saat ini saya menikmati setiap chapter-nya, sih. Steamy, sweet, and the story is engaging. Tapi ya begitu, walau jadi penyemangat membaca, di lubuk hati terdalam ada perasaan bersalah karena membaca romance seperti ini. Mungkin karena saya sudah terpapar dan mempelajari tentang woman depiction in literary works, jadinya saya butuh berkali-kali mengingatkan diri untuk membaca novel romance sebagai sarana entertainment, bukan mau dianalisa bagian yang ini kenapa, yang ini kenapa. Tapi, sejujurnya romance novel selalu jadi genre yang membuat saya mencintai membaca. 

2. Study and Works
Di atas tadi saya bilang pembunuh waktu yang menyenangkan, tapi kok ada belajar dan bekerja juga? 

Karena malas mengganti intro di atas, ya sudah lah, mari membahas tentang perkuliahan dan pekerjaan. Jadi, sejujurnya saya tidak merasa terbebani dengan tugas-tugas kuliah dan pekerjaan. Pertama karena saya memang santai, kedua karena saya...santai. Di rumah sebulan begini hawanya sudah hawa liburan. Minggu pertama saya bisa bangun pagi, tapi setelahnya ya dari seminggu saya cuma tiga kali, lah. Itu pun karena ada kelas di Zoom.

Tugas saya tidak banyak. Dosen saya pengertian. Namun, begitu ada satu tugas, ya referensinya harus beberapa. Itu artinya saya harus berselancar di internet dan membaca artikel bahkan jurnal-jurnal. Cukup menghabiskan waktu. Untuk beberapa mata kuliah saya menikmati, tapi beberapa ya sudah lah asal dikerjakan dan di kumpul. Tidak ada ekspektasi jika nilai akan keluar bagus.

Lalu soal pekerjaan menjadi relawan media. Saya barusan mendapat pekerjaan untuk menulis artikel dari diskusi lewat Whatsapp. Entah kenapa ketika sedang membaca bahan untuk menulis, otak saya tiba-tiba not responding. Benar-benar seperti komputer yang tiba-tiba layarnya berhenti, tidak bisa diapa-apakan. Saking stress-nya saya sampai terjaga hingga pukul empat pagi. Setelah lima jam tidur, saya bangun dengan otak yang tiba-tiba terasa penuh ide. Saya buka kembali bahan tulisannya, dan bam! Langsung saya temukan kerangkanya.

Ini seperti saat saya berusaha mencari remote televisi yang tiba-tiba tidak ada. Lalu, setelah saya tinggal makan karena mutung, tiba-tiba di tempat yang sama saya mati-matian mencari tadi, there it is. Bedanya kalau soal remote ini yang disalahkan adalah sesuatu yang tidak terlihat yang sedang usil. Lha, kalau masalah ide, yang disalahkan siapa, dong? Otak saya yang tidak berfungsi dengan baik.

3. Blogging
Himbauan #dirumahaja menjadi comeback saya di dunia blog yang sudah ditinggalkan ini. Waktu saya melihat postingan-postingan terdahulu views-nya bisa sampai ratusan. Sekarang, sudah di promote di medsos saja yang melihat hanya puluhan.

Blog bagi saya adalah sarana untuk berbagi hal-hal personal. Sebenarnya ini mungkin persepsi masing-masing orang, tapi saya tidak nyaman dengan vlog di YouTube yang terlalu personal. Kesannya bagaimana, ya. Agak cringey gitu. Mungkin karena selama ini YouTube saya gunakan untuk binge-watching bayi-bayi Korea, lihat makeup tutorial dan review, sesekali lihat Ted Talks walaupun sudah jarang sekali saat ini, intinya saya memang tidak pernah konsumsi video yang isinya orang curhat seperti saya ketika menulis di blog

Mungkin saya perlu mencari tahu kenapa saya begini, ya. Pasti ada alasan ilmiahnya. Atau mungkin memang saya yang suka menghakimi sesuatu tanpa alasan pasti.

4. Building Homes (in The Sims 4, of course)
Sejak kenal dengan game franchise yang satu ini saya selalu senang melihat rumah dan segala dekorasinya. Awal punya The Sims 3 dulu, saya berusaha bangun rumah, tapi hasilnya seperti kotak sepatu besar dengan atap yang jeleknya luar biasa. Sejak saat itu saya akhirnya memutuskan untuk fixer-upper. Beli rumah, lalu direnovasi sendiri.

Di The Sims 4 saya juga awalnya begitu. Beli rumah, lalu saya renovasi sendiri. Tapi karena melihat banyak video speed build saya jadi merasa ingin belajar. Akhirnya saya cermati setiap video, mencari tips-tips membangun rumah, cheat apa saja yang diperlukan selain tentunya motherlode dan rosebud. Saat ini saya masih tertatih untuk mengerjakan eksterior, menentukan bagaimana bentuk atapnya, dan landscaping. Namun, setidaknya saya kini telah berhasil membuat interior yang terlihat orang beneran sedang hidup di dalam rumah itu. Tidak terlalu cluttered tapi cukup cluttered. Begitu, lah, intinya. 

Selama karantina mandiri ini saya sudah membangun tiga rumah. Satu bertema industrial, dua midcentury modern. Keduanya menurut saya tidak terlalu sulit untuk roofing, tidak seperti model-model farmhouse yang banyak detailnya. Dan yang saya baru sadar, membangun rumah di The Sims itu sangat menghabiskan waktu. Tiba-tiba sudah subuh yang berarti saya telah menghabiskan lebih dari 12 jam di depan laptop. Kayaknya, besok setelah selesai masa #dirumahaja saya bakal jadi YouTuber speedbuild terus muncul di HGTV. 

5. Taking on Challenges (Again, in The Sims 4, not a real-life challenge, duh.)
Harus saya akui, membaca, belajar dan bekerja, menulis blog hanya, lah sampingan. Aktivitas utama saya selama tiga puluh hari ini adalah main The Sims 4. Saya bisa sampai begadang dan merasa baik-baik saja karena main The Sims. Coba belajar atau nugas. Satu jam sudah mengantuk.

Sejak melihat 100 Baby Challenge saya jadi ingin main challenge di The Sims. Saya mulai browsing dan menemukan challenge yang tidak se-chaotic 100 Baby Challenge--too many tods! Yang pertama standar, saya berusaha untuk hidup dari uang 20.000 simoleons hingga menjadi kaya raya. Lalu yang saat ini saya sedang mainkan adalah Mafia Mom. Intinya ada matriarch yang kerjaannya jadi penjahat dan punya tujuh anak dari laki-laki yang berbeda. Nice. 

Peraturannya tanpa cheats, tapi setting umur di The Sims saya jadikan lebih panjang. Bukan cheats kan, ya?

Wow. Tulisan ini panjang juga. Saya memilih lima hal untuk ditulis dengan asumsi tulisan ini bakal pendek. Ya, makanya, jangan asumsi, Lia. Tapi saya senang bisa menulis ini. Hari saya terlihat produktif.

Stay safe and healthy, everyone!

You Might Also Like

0 COMMENTS