RINDU

March 12, 2020

Hal yang berubah dari pertama kali saya menulis blog ini adalah isi konten yang sekarang jauh lebih tidak personal. Walaupun empat tulisan terakhir tetap saja personal thought yang isinya berbagi pengalaman hidup. Tapi percaya lah, empat tulisan itu jika dibanding dengan ratusan tulisan lain yang pernah saya unggah, tidak ada apa-apanya. Dari tulisan-tulisan yang sudah saya unggah, hanya sebelas yang akhirnya saya pajang saat ini. Alasannya karena ketika membaca postingan lama saya, mendadak ada yang berbisik dengan suara menyebalkan, "That writings are supposed to be written in your diary, not in your blog. TMI. Too personal."

Siapa yang berbisik? Tentu saja saya sendiri.

Selain itu, hal yang saya amati lagi ketika dulu saya menulis blog adalah tidak ada tekanan untuk membuat tulisan bagus yang enak dibaca. Yang penting emosi yang membuncah saat itu tersalurkan. Sekarang, setelah jadi penulis yang bukunya diterbitkan secara komersil, tiba-tiba kepala saya penuh dengan ekspektasi-ekspektasi ketika menulis. Belum sampai mematuhi SEO biar muncul di search engine begitu, sih. Namun, ketika duduk, membuka laptop, lalu mulai menulis, saya berpikir bagaimana tulisan ini menarik. Bagaimana tulisan ini bisa merepresentasikan diri seorang Ardelia Karisa. 

Lalu saya sampai sekarang masih tidak menyangka jika pernah menjadi orang yang cukup percaya diri untuk menulis opini disini. Dulu saya sempat menulis soal pengeboman di Paris, ada juga tulisan soal Mattel merilis Barbie yang lebih inklusif. Membaca kembali, saya sebenarnya cukup bangga dan merindukan kepercayaan diri itu. Sekarang saya mau nulis di Twitter atau Instagram saja berpikir ratusan kali. Kadang sudah menulis panjang-panjang, tapi akhirnya dihapus karena tak ada keberanian untuk mengunggahnya.

Yang tak pernah berubah adalah saya yang tidak pernah disiplin untuk menulis sesuai jadwal yang telah saya buat. Berkali-kali saya berniat untuk tekun menulis. Beberapa kali draft tulisan sudah dibuat, tapi ya hanya sampai situ saja. Tak dilanjutkan kembali.

Saya cukup konsisten jika masalah tidak disiplin dan bermalas-malasan.


Saya rindu sekali menulis. Menulis karena ingin dan suka. Terakhir kali menulis fiksi sudah 2017 lalu. Itu pun penuh peluh untuk mengejar tenggat waktu dan berakhir sangat tidak maksimal. Sekarang saya menulis kalau tidak paper, essay, ya berkaitan dengan pekerjaan sebagai relawan media. Sebenarnya saya suka, tapi ingin rasanya bisa kembali menulis novel. Begadang menulis karena idenya sedang mengalir deras. Tidak sabar buka laptop untuk melanjutkan tulisan. 

Mungkin ini fase. Semoga ini hanya fase. 
Jika sekarang saya belum bisa menulis kembali mungkin karena kepercayaan diri saya untuk mengungkapkan apa yang ada di kepala ini belum cukup. Saya pun masih takut untuk menyentuh hal-hal personal yang terjadi beberapa tahun ini. Padahal, selama ini inspirasi terbesar saya adalah pengalaman diri yang direkonstruksi sedemikian rupa menjadi fiksi. Dan soal disiplin, saya selalu berkilah jika saya tidak punya waktu dengan kuliah, tugas, dan pekerjaan yang saya ambil di sela-selanya.

Tapi jauh di dalam hati, saya tahu kalau itu cuma alasan. Alasan agar saya bisa terhindar dari tanggung jawab untuk bisa menyelesaikan semuanya dengan efektif lalu menulis blog atau mencoba meneruskan naskah. 

Ini adalah sebuah fase, saya akan percaya itu. Semoga bisa saya lalui secepatnya.  

You Might Also Like

0 COMMENTS