STAYING ALL DAY AT HOME

August 16, 2019


Di liburan kali ini saya baru menyadari jika hal sesederhana diam di rumah tidak melakukan apa-apa adalah sebuah kemewahan. Ketika rumah selalu diasosiasikan dengan tempat ternyaman, bagi sebagian orang lain justru sebaliknya. Karena orang terdekat lah yang bisa menyakiti diri ini begitu dahsyatnya, maka rumah sangat bisa menjadi tempat kejadian perkaranya.

Liburan ini saya menikmati setiap detik di rumah. Tidur sampai siang, berusaha mencoba menghabiskan daftar nonton film, sekadar bermalas-malasan tanpa melakukan apa pun. Mengisi daya setelah empat bulan kemarin begitu disibukkan dengan kuliah dan kegiatan lainnya. Di dua minggu awal atau mungkin lebih, saya bangun siang dengan omelan orang tua. Dasar pemalas katanya. Walau sebal, saya nggak bisa menampik jika label itu cocok pada Lia versi liburan.

Akhirnya setelah puas malasnya saya pun mencoba lebih produktif. Aduh, agak berat ini mendefinisikannya. Produktif adalah kata yang saya berikan untuk mendeskripsikan aktivitas mencoba resep-resep dari YouTube yang akhirnya nggak cuma disimpan di folder saja. Menonton sampai dua-tiga film dalam sehari. Membuat berbagai macam es kopi untuk teman minum pada siang hari. Membaca novel-novel baru yang mulai menjamur di lemari karena setelah dibeli, dibuka plastiknya, lalu didiamkan tanpa disentuh setelahnya. Untuk yang satu ini saya agak percaya diri untuk menyebutkannya, mengerjakan proyek menulis yang sudah lama terbengkalai.

Semua itu saya lakukan di rumah. 

Dengan adik yang berbagi kamar dengan saya melakukan hal serupa (nonton, goler-goler di tempat tidur sambil main smartphone). Orang tua yang kadang membuyarkan konsentrasi menulis dengan suruhan-suruhan remeh seperti mematikan keran air. Dan sesekali berantem kecil karena hal sepele seperti saya yang sedang malas keluar malah diminta tolong untuk mengantar ke tukang sayur langganan.

Menulis ini membuat saya emosional. Beberapa tahun lalu rumah hanya jadi tempat untuk tidur dan makan kalau uang sudah tak bisa menanggung kebiasaan jajan. Tidak lebih tidak kurang. Maka saya berterima kasih pada Tuhan yang telah memberikan nikmat ini pada saya. Religius sekali. Padahal saya agak curiga malaikat pencatat dosa saat ini sedang menulis 'pamer dan sombong' dalam catatan panjang dosa-dosa saya.

You Might Also Like

0 COMMENTS

Instagram