WELCOMING 2014 WITH AN OPEN HEART

January 14, 2014

Count this post as the first post on 2014, ya. Soalnya yang kemarin nggak jelas banget. Lagi pengen nulis di tablet dan hasilnya malah kayak gitu.


By the way, hari ini ternyata salah satu personel boy band yang fotonya kemarin saya unggah ulang tahun.

Happy Birthday Kai!

Oke, kembali ke tema postingan ini.

Hari ini tepat dua minggu setelah hingar bingar pesta tahun baru yang saya habiskan dengan meringkuk di atas tempat tidur, kedinginan, nggak bisa menikmati proses intropeksi yang biasa saya lakukan di malam tahun baru sambil nangis kayak drama-drama di televisi itu. Well, jangan salahkan saya kalau agak-agak cengeng ya. Setiap tahun baru saya emang agak sedikit melankolis, entah kenapa menurut saya, tahun baru itu nggak selayaknya dapat pesta. Justru dengan adanya tahun baru saya pikir itu momen untuk intropeksi, melihat ke belakang, berusaha mengingat pelajarannya dalam satu malam kemudian bersiap untuk menyongsong tahun yang lebih baik.

Itu yang selama ini saya lakukan. Orang tua juga nggak membiasakan dengan pesta-pesta kayak gitu sih. Ulang tahun aja kadang saya sambut dengan air mata. Karena itu tadi. Saya kadang merasa sudah menyia-nyiakan satu tahun.

Entah ini karena saya orangnya negatif atau memang berbeda aja pandangan atas tahun baru yang berarti satu tahun sudah berlalu itu.

Saya nggak akan mengingat apa yang telah saya lakukan di tahun 2013. Cukup saya, Tuhan dan hati saya yang tahu bagaimana 2013 bekerja untuk membuat Lia menjadi seperti Lia yang sekarang. Tapi ada satu hal yang ingin saya beberkan untuk kepentingan pribadi.

Kepentingan pribadi untuk merasa lega dan sedikit terlihat kewl akibat sudah menggurui.

Maaf yah, naluri gurunya muncul terus nih.

Kalimat yang bakal saya camkan di otak, biar nggak ada dramatisasi keadaan kalau saya sedang terpuruk.

Hal pertama yang ingin saya bahas adalah tampilan blog yang kelihatan lebih berwarna dan mungkin feminin.
Jadi, di tahun 2014 ini saya nggak akan lagi menyembunyikan sifat feminin saya seperti dulu-dulu. Banyak hal yang ingin saya ubah dari diri saya untuk menjadi lebih saya. Got it? Rencana-rencana itu semuanya sedang dalam proses dan sebagian sudah terlihat.
Saya nggak akan bilang hal-hal apa saja yang ingin saya ubah. Nggak menarik juga ini. Yang jelas saya sekarang sudah tahu sisi feminin saya yang ternyata selama ini secara tidak sadar disembunyikan oleh diri saya sendiri.
Untuk langkah pertama, saya tuangkan di warna-warna lembut blog ini. 

Hal kedua, judul blog Morning, Gorgeous berwarna tosca itu.
Di balik judul itu ada maknanya. Saya yang mengaku cewek metropolitansetdah apaan banget inidan menganut segala hal yang berbau moderndisini dalam hubungan percintaan, ya yang di bahasternyata sebenarnya lebih suka dengan percintaan standar ala masyarakat tradisional. 
Jadi gini, saya diam-diam punya mimpi, besok kalau udah nikah, pasangan yang bakal mendampingi saya itu bakal setiap pagi menyadari betapa beruntungnya dia bisa bangun di sebelah saya. Melihat pemandangan saya yang bangun tidur nggak pernah cantik tapi tetap menganggap itu adalah hal terindah dan membuatnya bahagia.
Saya nggak ingin dia setiap pagi bergumam "morning, Gorgeous," juga. Tapi ya itu tadi, mungkin saya nggak bakal pernah tahu tapi saya harap besok saya mendapatkan yang seperti itu.

Sampai disini saya agak eneg sendiri melihat postingan di awal tahun ini.

Tapi sudahlah, eneg sama diri sendiri lebih baik daripada eneg sama kelakuan orang lain.

Dan hal terakhir adalah masalah penerimaan diri saya sendiri.
Di tahun 2013 lalu saya jujur saja selalu menyalahkan diri sendiri karena mengetahui fakta bahwa kemampuan bersosialisasi saya nggak secanggih orang-orang berlabel supel. Saya cenderung pendiam ketika berada di lingkungan yang saya nggak kenal dan bukan tipe orang yang cepat akrab.
Kenyataan itu membuat saya agak frustasi. Karena sejujurnya saya suka banyak teman di berbagai kalangan. Saya penulis, saya butuh perspektif lain tentang sebuah kasus dan menurut saya teman dari berbagai kalangan itulah jawabannya.
Menghabiskan waktu satu tahun menyalahkan diri sendiri itu ternyata berdampak pada saya yang cenderung lebih murung, menurut saya, dibanding tahun-tahun sebelumnya. Saya belajar dari sini bahwa saya harus bisa menerima kelemahan saya ini.
Nggak bisa terus-terusan membandingkan diri saya pada orang lain yang punya teman banyak. Saya nggak friendless sih, tapi ada satu kesempatan dimana saya merasa saya benar-benar nggak bisa masuk untuk sekedar berbasa-basi.
Saya bukan anti basa-basi. Tapi memang nggak bisa basa-basi. Kalau nggak ada yang diomongin ya udah diem aja, nggak perlu sok kenal sok dekat yang menurut saya kadang bikin orang risih.
Banyak lah sebenarnya kelemahan-kelemahan yang perlu saya terima.
Tapi di tahun 2014 ini saya komitmen untuk nggak terlalu marah pada diri sendiri. Untuk melanjutkan hidup dengan apa yang dipunyai. Bersyukur dan terus berkarya. 

Hal terakhir ini masuk ke resolusi yang dimulai dari tahun 2014 dan nggak akan berakhir sampai saya tutup usia.
Menerima keadaan diri sendiri ternyata juga sulit. At least, untuk saya yang ternyata termasuk orang yang keras pada diri sendiri dan punya batas-batas tinggi untuk diri saya sendiri. 

Cukup sekian postingannya.

Selamat tahun baru 2014, semoga tahun ini banyak rejeki, berkah, keajaiban dan nikmat-nikmat dari Tuhan untuk kita.

Dan satu lagi. Semoga Lia di tahun 2014 ini menjadi yang lebih baik dan di tahun 2015 besok bisa tertawa atas masalah-masalah dan kejadian yang bakal terjadi di tahun 2014 ini.

You Might Also Like

0 COMMENTS