LIMA TAHUN MENULIS CINTA


Terakhir kali menulis di blog saya masih bimbang menanggalkan status 'lulusan SMA' demi keberlanjutan hidup. Dilahirkan menjadi orang yang optimis, saya tidak pernah menyangka kalau hidup bisa segila itu. Ibaratnya saya disuruh Tuhan masuk ke dalam lubang hitam tanpa sedikitpun cahaya. Tapi sepertinya bakal sia-sia juga jika punya lilin atau senter, sih, karena saya juga tidak tahu kemana harus menuju.

Dan saya tahu, ini baru permulaan hidup. Tuhan bakal ngakak sampai guling-guling kalau begini saja saya sudah mengeluh. Jadi, mari nikmati hidup yang seperti kopi ini. Tak terlalu saya suka karena pahit dan ya, enakan air putih, tapi kudu diminum dan coba dinikmati juga.

Oya, paragraf pembuka yang saya tulis menyiratkan jika sekarang saya agak cerah masalah perkuliahan, ya. Padahal nggak juga. Intinya saya masih juga seperti dulu. Kalau lagi down, mulai nyala itu mode mempertanyakan arti kuliah diikuti dengan ketakutan-ketakutan yang begitu menjemukan dan melelahkan. Dan sejujurnya salah satu ketakutan yang hingga saat ini masih ada adalah fakta jika status mahasiswa baru ini adalah hasil dari pemikiran singkat saya.

Teman-teman saya yang tahu betapa kusutnya isi otak ini sampai heran. Biasanya saya yang kalau mikir kebanyakan sampai nggak jalan-jalan kok tiba-tiba banting setir memutuskan untuk kembali kuliah hanya dalam hitungan beberapa minggu? Tanpa banyak omong langsung beraksi beli kumpulan soal, belajar giat, dan untungnya terbayar dengan lolosnya saya masuk ke kampus yang berusaha saya cintai itu. Diam-diam keheranan teman-teman itu membuat saya rajin memupuk semangat disertai doa bahwa ini bukanlah keputusan yang nantinya akan saya sesali lagi.

Lalu, ditengah-tengah kegilaan menjadi mahasiswa tingkat pertama ini, saya menyelipkan harapan bahwa keputusan grasa-grusu ini menyimpan cerita roman yang bakal saya nikmati. Luar biasa emang si otak. Racun menye-menye sudah begitu menyebar, nggak bisa lagi ditolong dengan logika yang eksistensinya di hidup saya mulai bangkit dan menunjukkan kekuatannya.

Begini mungkin kalau kebanyakan plotting cerita cinta, ya. Segalanya dihubungkan dengan mencari partner hidup. Sok-sok ngomongin teman sepantaran yang tujuan hidupnya menyegerakan hubungan seksual yang sah lalu bereproduksi, padahal saya juga pikirannya sebelas dua belas. Sok-sok membantah arti cinta dalam hidup yang terlalu diromantisasi, tapi pikiran saya penuh dengan ide cerita bagaimana si tokoh utama bakal jatuh cinta dengan tokoh lainnya.

Tahun ini adalah tahun kelima saya meniti karir sebagai penulis roman. Dan tidak disangka ternyata selama ini saya termasuk produktif mengeluarkan karya. Terima kasih pada uang royalti yang menjadi cheerleader utama bagi kelanjutan permainan ini. Jika penulis atau seniman lain tahu ini alasan saya untuk terus menulis, mampus lah, saya. Uang dalam seni itu bisa dibilang musuh dalam selimut. Namun, jujur saja, kalau bukan uang royalti mungkin saya sudah menyerah jauh-jauh hari.

Permasalahannya adalah, saya selalu tak menemukan alasan bagi calon pembaca untuk membeli karya saya. Rasa excited ketika dikirimi cetakan pertama itu lalu tertutup oleh bayangan rasa malu karena merasa cerita saya kok ya gitu-gitu aja. Saya tahu jika penulis memang tak seharusnya merasa puas atas karyanya. Karena itu artinya proses belajar akan terhenti. Tapi apakah perasaan saya yang seperti ini memang lumrah dirasakan oleh penulis lainnya?

Lima tahun sudah saya bergelut dengan segala keinginan untuk menyerah.
Lima tahun saya terus mengkerdilkan diri karena hasil karya yang seperti sampah.
Lima tahun saya mencari pembenaran atas apa yang saya lakukan.
Lima tahun saya berusaha untuk terus berjalan dengan bahan bakar uang royalti yang sebenarnya tak seberapa itu.

Jadi, apa yang saya dapat dari lima tahun menulis tentang orang jatuh cinta? Selain royalti, tentunya.

Bahwa saya adalah pengkritik paling pedas dan tak punya perasaan.
Juga kesadaran jika saya harus terus konsisten dan menekuni dunia penulisan ini. 
Dan untuk merayakan momen ini, sebuah janji dibuat. Lima tahun ke depan, saya berjanji akan duduk menulis tulisan berjudul 'Sepuluh Tahun Menulis Cinta'.

No comments:

Post a Comment