May 22, 2016

NEVER ENDING PARTY


Buku ini sudah masuk dalam wishlist saya sejak kemunculannya membuat geger di tahun 2006-an kalau tidak salah. Tapi karena saya waktu itu masih freshman di sekolah menengah pertama, jadi keinginan itu saya kubur saja. Dan akhirnya beberapa bulan lalu saya berhasil dapat buku ini!

Jakarta Undercover 4 in 1 ini merupakan rangkuman dari tiga buku sebelumnya ditambah revisi dan update terbaru yang diberikan Moammar Emka. Well, bukan rangkuman juga sih, tapi cerita yang terpilih. Dan jujur, saya masih mengharapkan bisa memilki tiga jilid Jakarta Undercover sebelumnya. Nggak puas aja cuma punya satu padahal dari sejak SMP saya udah ngiler kepingin baca ini. 


Oke, jadi bisa dilihat dari daftar isinya, judulnya saja sudah gila. Selama empat-lima hari saya baca ini, setiap tutup buku--saya ulangi, setiap tutup buku saya selalu berdecak tak percaya dan benar-benar mengeluarkan kata, "gila lo, gila, gila, gila," dan menuding ke arah kaver berwarna merah menyala ini. Saya nggak bisa tahan aja perasaan overwhelming ketika baca hasil observasi Moammar Emka yang sangat mendalam itu di buku ini. 

Yang paling membuat saya 'kehilangan akal sehat'--nggak tepat sih ungkapnnya tapi kira-kira begitu lah keadaan saya waktu baca bagian underground nude party dan topless party. Maaf ya spoiler, tapi beneran deh, nggak bayangin aja saya ada sebuah pesta yang lokasinya di bawah tanah--semacam private club begitu dan syarat untuk mengikutinya adalah telanjang bulat. Tidak laki-laki tidak perempuan. Maaf saya harus ngomong what the fuck. Nggak pernah terpikir aja gitu ada pesta kayak gini. Di Indonesia pula. Edan banget kan, ya? Yang topless party nggak begitu hardcore lah jika dibanding yang nude party itu. Yang satu itu syarat bisa ikut party adalah membuka salah satu pakaian. Entah atasan atau bawahan. 

Saya masih bisa bayangin lah kalau yang satu ini. Tapi tetep aja ini gila. 

Membaca buku ini membuat saya tak lagi terlalu polos ketika melihat sebuah Pajero atau mobil mewah lainnya melintas di jalanan Jakarta pada malam hari. Jika dulu saya menganggapnya itu adalah orang yang mau berangkat clubbing, atau pulang lembur dari kantor, atau apa lah hal-hal 'normal' lainnya. Sekarang? Saya nggak bisa menghapus cerita Pajero Goyang itu begitu saja dari otak. Dan yang pasti ketika suatu hari saya akhirnya memutuskan untuk menikah, saya akan tanya pendapat calon pasangan saya tentang jajanan seks seperti ini.  

Jadi seperti yang tertulis pada kalimat pertama buku ini:


Dan sejak saya baca buku Eleven Minutes, saya cenderung ingin industri 'gelap' seperti ini justru dilegalkan. Dibuat peraturan yang jelas. Teman-teman saya agak nggak setuju dengan hal ini, saya nggak bisa maksa mereka untuk setuju juga. Hal ini memang masih terlalu tabu untuk dilegalkan. Tapi saya kok yakin bakal banyak pengaruh positifnya nggak untuk negara saja, tapi untuk kesehatan, keamanan, dan lainnya. Saya masih perlu banyak research tentang ini. Aspek yang perlu dikaji banyak sekali. Nanti kalau saya sudah punya jawabannya, pastinya akan saya tuangkan di blog ini.

No comments:

Post a Comment