February 7, 2016

SIMPLE MIRACLES

Jadi, sebenarnya saya udah mulai baca ini dari setahun yang lalu. Tapi karena banyak distraksi, mulai dari pikiran sendiri hingga hal-hal yang terjadi di sekitar, saya cuma bisa menyelesaikan hingga ke tengah buku dan kembali memasukannya dalam lemari, tak menyentuhnya sama sekali.

Well, di tahun 2016 ini salah satu hal yang ingin saya lakukan adalah memperbanyak membaca. Sejak tahun 2014 lalu saya merasa kurang sekali berinteraksi dengan buku. Banyak buku yang saya beli akhirnya hanya tersusun rapi di lemari, belum disentuh sama sekali. Dan, untuk mengawali rencana saya itu, Simple Miracles merupakan buku pertama di tahun 2016 yang saya selesaikan.

Technically, ini buku kedua yang saya baca. Tapi buku sebelum Simple Miracles itu saya baca untuk referensi menulis saja. Untuk review buku yang pernah saya baca lebih lengkap bisa lihat di profil Goodreads saya. Sedangkan yang saya tulis di blog ini lebih ke bagaimana buku ini bisa mempengaruhi saya atau menambah value dalam hidup yang saya jalani ini.


Saya terlahir di keluarga yang cukup taat pada agama. Sejak kecil hingga sekolah dasar saya menuntut ilmu di salah satu sekolah yang berbasis agama. Jadi, dengan bangga saya bisa berkata bahwa apa yang orang tua saya lakukan adalah hal yang benar. Secara agama.

Tapi sayangnya, untuk melaksanakan kewajiban agama seperti sembahyang saya termasuk yang sangat tidak disiplin. Padahal saya sudah tahu konsekuensi yang akan saya dapat ketika saya tidak menjalankan perintah Tuhan itu. Well, singkat cerita, berangkat dari sembahyang yang bolong-bolong itu, saya jadi bertanya-tanya kenapa saya harus menyembah Tuhan dengan satu cara ini? Kenapa saya nggak bisa hanya ‘mengobrol’ dengan Tuhan setiap malam sebelum tidur tanpa melakukan ritual-ritual yang saya pelajari sejak kecil itu? Kenapa saya harus takut pada Tuhan?

Begitu banyak pertanyaan tentang agama dan eksistensi Tuhan yang ada di dalam kepala ini. Salah satunya adalah konsep Tuhan yang tunggal, tapi di setiap agama Tuhan memiliki nama berbeda. Dan yang anehnya lagi, banyak orang yang menganggap cara menyembah Tuhan yang mereka pelajari lebih baik daripada yang lain? How odd is that? 

Maafkan saya yang bodoh ini, ya.

Tapi untungnya, kebodohan saya ini disambut dengan kehadiran buku yang ditulis oleh Ayu Utami ini. Saya suka dengan konsep Spiritualisme Kritis yang dijabarkan. Sangat sangat sangat suka. Secara singkat, menurut Ayu Utami, spiritualisme kritis adalah:

Penghargaan pada yang spiritual tanpa mengkhianati nalar kritis.


Ini adalah bab yang paling saya sukai. Bab dimana spiritualisme kritis dibahas sangat dalam. 
Saya merasa related dengan bagaimana Ayu Utami menganalogikan perjalanan spiritualismenya dengan sejarah pemikiran Eropa. Mulai dari religiusitas, sekularisme, dan pasca-sekularisme--disinilah Ayu Utami menemukan konsep spiritualisme kritis tersebut. Ayu Utami sudah mengalami semuanya, saya sedang dalam tahap sekularisme.

Apa saya percaya Tuhan? Tentu saja. Saya percaya bahwa saya hanyalah tokoh dari cerita terbaik yang pernah ditulis. Dan penulisnya adalah Tuhan tentu saja. Saya tidak sehebat itu sampai bisa berkata bahwa apa yang sekarang saya miliki adalah hasil kerja keras saya. Intinya saya percaya Tuhan adalah puppet master terbaik.

Tapi apakah saya percaya agama? Hingga saat ini belum.
Dan setelah membaca buku ini saya jadi ingin mempelajari lebih dalam kitab-kitab yang ada di dunia dan esensi-esensi agama yang ada. Saya ingin tahu saja apa sih yang membuat orang tua saya mengatakan bahwa agama saya adalah yang terbaik? Kenapa perlu keyakinan itu jika saya memeluk agama itu?

Untuk sekarang saya percaya jika merasa lebih baik akan menimbulkan superioritas. Dan apakah saya percaya bahwa untuk beragama saya perlu itu? 

Saya lebih percaya pada kemawasan diri, karena ketika saya besok akhirnya memilih untuk menganut agama tertentu, saya tidak ingin menjadi orang yang menertawakan ketika orang menyembah patung, bersembahyang dengan hio, bernanyi untuk memuja Tuhan, melaksanakan perintah Tuhan dengan melaksanakan sholat lima waktu, dan hal-hal lainnya. 

Menghargai perbedaan agama terlihat mudah, tapi pada kenyataannya itu tidak semudah yang dibayangkan.

Selesai membaca buku ini saya jadi mengerti bahwa saya bertanya-tanya pada eksistensi agama karena saya, sebagai manusia, dikaruniai logika yang menginginkan penjelasan lebih dalam tentang ritual-ritual yang saya jalankan itu--yang kata teman saya sebenarnya tak perlu dipertanyakan karena keberadaan agama saja sudah absurd. Dan saya cukup keras kepala karena ingin menemukan jawaban atas alasan kenapa ritual-ritual tersebut dilaksanakan.

Saya ingin suatu hari nanti bisa mendamaikan logika dan keinginan saya untuk berdialog dengan yang tak terlihat tapi sangat berkuasa itu. Itu artinya saya telah menerapkan konsep spiritualisme kritis dalam hidup saya. Sebuah konsep yang menjadi jawaban atas pertanyaan-pertanyaan tentang agama dan Tuhan yang selama ini berkeliaran di kepala saya. 

This book is indeed a simple miracle for me. 

No comments:

Post a Comment