5 BOOKS THAT REALLY MATTERS TO ME

Well, dikarenakan internet yang mati selama seminggu kemarin saya jadi nggak bisa update blog pada hari Minggu seperti biasanya. Jadi, untuk membayar rasa bersalah pada diri saya sendiri dan kebetulan dalam rangka untuk menutup bulan penuh cinta ini, saya akan posting dua tulisan dalam satu minggu.

Not a lot people will read this, but this makes me feel more at peace. Setelah saya sering melarikan diri dari kelas di kampus, setidaknya ada hal yang membuat diri saya merasa lebih bertanggung jawab. Mematuhi peraturan update blog seminggu sekali seperti yang saya jadwalkan salah satunya.

So, enough with those stuffs. Di hari Sabtu ini saya ingin menulis tentang lima buku yang saya pilih dari lemari untuk diulas secara singkat. Saya memilihnya berdasarkan bagaimana buku itu membuat pikiran saya lebih terbuka, menggerakkan hati, atau yang paling cheesy, menangis. Aih.


Jangan bayangkan akan ada buku Sophie's World atau yang berat-berat banget lah, ya. Cukup Eleven Minutes saja yang 'berat' yang lainnya ringan-ringan saja.
Sebelumnya saya ingin menekankan saja bahwa lima buku ini merupakan buku yang membuka mata saya saat masih duduk di sekolah dasar hingga SMA. Dan dari urutan yang paling lama, saya bakal ulas pertama kali yaitu:


Labelnya sih Teenlit Gramedia yang pada saat itu didominasi oleh cerita cinta-cinta masa sekolah menengah yang imut-imut. Tapi jangan salah, isi buku ini menurut saya cocok dideskripsikan dengan: blow out my mind. 

Saya ingat sekali suka curi-curi beli buku Teenlit waktu SD dan beli ini karena kavernya berwarna biru yang merupakan warna kesukaan saya dulu. Dan juga di sinopsis tokoh laki-lakinya bernama Liam yang waktu itu terdengar oh-so-cool bagi saya.

Berekspektasi mendapatkan cerita cinta anak sekolah Amerika, buku ini malah menceritakan hubungan kakak-adik Regan dan Liam. Dan mengenalkan transgender untuk pertama kalinya ke saya. Yes, you hear it right. Transgender. Di umur saya yang waktu itu sekita sebelas-dua belas saya mengenal transgender untuk pertama kalinya dari Liam. Dan jujur saja sejak saat itu saya jadi memandang Bunda Dorce dan transgender lainnya berbeda. Hingga saat ini.

Mungkin dari sini juga saya ter-western-isasi. Saya jadi meminjam yang katanya pola pikir 'orang barat' ketika menghadapi fenomena transgender. Dan sekarang yang sedang hot dibicarakan LGBT. To be honest, saya nggak punya argumen bla bla bla untuk menjelaskan kenapa saya tidak memusingkan masalah tersebut--walaupun di laman Facebook dan Twitter saya share sedikit sudut pandang dari orang yang 'pro' dengan legalisasi LGBT tersebut. Saya pikir itu bukan hal yang perlu diperdebatkan. Saya menghormati keberadaan mereka titik. Tidak ada alasan karena ini karena itu. Karenanya cuma satu, mereka manusia. Selesai perkara.

Suatu hari saya kepingin juga sih bisa buat buku seperti ini. Yang muatannya nggak roman saja, tapi ada feminisme-nya atau ada bagaimana kebebasan beragama dari sudut pandang saya. 


Buku ini saya beli waktu SMP. Saya ingat sekali jalan kaki dari sekolah ke toko buku dan memborong buku salah satunya ini. Sebenarnya buku ini nggak terlalu spesial sih, saya juga agak bertanya-tanya kenapa saya masukkan buku kecil nan tipis ini dalam daftar.

Tapi akhirnya setelah dibaca kembali saya ingat kenapa buku ini mengena ke diri saya. Lebih ke teknik cerita dan tema bukunya sih sebenarnya. Ceritanya tidak terlalu spesial juga. Ada teknik ceritanya yang saya suka dan hingga sekarang masih saya adopsi dan tema SongLit itu jadi membuka mata saya waktu itu yang masih mimpi jadi penulis untuk membuat cerita terinspirasi dari sebuah lagu.


Dari lima buku yang saya masukkan dalam daftar ada tiga yang saya beli waktu SMA. Salah satunya Sanubari Jakarta.

Jika Luna memberikan perkenalan saya pada dunia T, maka Sanubari Jakarta menggali keingintahuan saya pada fenomena-fenomena LGB. Saya suka roman dan Sanubari Jakarta menghadrikan roman yang pasangannya tidak hanya berjenis kelamin berlawanan. Kalau bukan sempurna saya nggak tahu lagi namanya. 


Walaupun peran Keenan dalam filmnya mengecewakan saya sampai sekarang kepingin bisa menemukan Keenan saya. Laki-laki artsy yang logikanya jalan adalah kesempurnaan tiada banding. Keenan nggak terlalu menye, tapi menghargai cinta. Dia bisa melukis tapi pintar secara akademik. Ganteng pula--di buku ya, bukan di film.

Selain diperkenalkan oleh Keenan, well, harus saya akui buku ini merupakan titik balik saya dari seorang anak SMA biasa menjadi anak SMA biasa yang menerbitkan buku cheesy pertamanya. Mimpi dari sekolah dasar itu jadi nyata karena saya nangis sesenggukan baca bagaimana Kugy dan Keenan mengejar mimpi mereka dan saya merasa diri saya harus mulai mengejar mimpi saya. And thank God because I finally did it.

Walaupun mimpi itu sekarang harus diteruskan lagi. Menerbitkan satu buku itu kebanggan ketika saya SMA, tapi sekarang kebanggaan saya jika salah satu buku saya bisa jadi best seller dan nama saya bisa jadi salah satu yang outstanding diantar penulis pop romance yang bejibun banyaknya itu.


Pandangan saya pada LGBT sudah terbuka. Lalu saya membeli buku ini di Toga Mas. Awalnya sih tertarik karena dari sinopsisi kayaknya banyak adegan seksnya--saya 17 tahun waktu itu, jadi maklum ya, tapi ternyata buku ini lebih dari itu.

Saya mengenal Paulo Coelho malah dari buku ini bukannya The Alchemist. Baru sejak itu saya mulai membaca buku beliau lainnya. Eleven Minutes membuka pikiran saya pada dunia prostitusi. Mengikuti perjalanan Maria yang polos terjebak dalam dunia prostitusi di Swiss yang sangat teratur itu membuat saya sadar satu hal, bahwa dunia prostitusi itu seharusnya diatur oleh pemerintah dan ada peraturan resminya.

Pokoknya bagus lah ini buku. Tepat mengena di hati sehingga saya jatuh cinta pada karya-karya Paulo Coelho lainnya walaupun sekarang lagi bosan dan belum menyentuh beberapa buku beliau yang sudah dibeli.

Jadi, ini lima buku yang menurut saya benar-benar membuat pikiran dan hidup saya jadi berubah--jika bisa dibilang begitu. Untuk buku Gerimis saya sebenarnya mau ganti jadi buku Sheila: Luka Hati Seorang Gadis Kecil karangan Torey Hayden, tapi saya sudah terlanjur bikin foto properti tanpa buku itu. Terlalu malas untuk foto-edit lagi, jadi ya sudah lah ya. Besok mungkin saya akan ulas buku Sheila yang membuat saya dimarahin orang tua dan dihukum nggak boleh beli buku selama sebulan saat kelas 4 SD. 

Mungkin.

Tunggu saja.

2 comments: