January 31, 2016

THE BODY ISSUE

http://time.com/barbie-new-body-cover-story/
Photograph by Kenji Aoki for TIME

Sejak Mattel memperkenalkan tiga Barbie berukuran Petite, Tall, dan Curvy, internet jelas heboh memberitakan dan menganalisa bagaimana akhirnya perusahaan boneka asal Amerika tersebut menjawab sindiran-sindiran atas kesempurnaa Barbie yang selama ini tak pernah absen didengungkan oleh khalayak luas itu dengan meluncurkan tiga produk teranyarnya.




Ini adalah Barbie squad yang dulu dikenal. Bentuk tubuh yang sama ini menjadi bahan perdebatan sejak lama karena menurut masyarakat, figur Barbie tak hanya sekedar mainan anak-anak saja. Barbie juga ikut membangun imej tentang bagaimana kata 'cantik' itu diterjemahkan dengan tubuh yang langsing, kaki jenjang, lingkar pinggang kecil sejak usia dini. Dan karena Barbie merujuk pada boneka berambut pirang dengan kulit putih, maka khususnya di Asia, kulit putih porselen dan rambut keemasan juga termasuk dalam paket bernama cantik itu.
Barbie is not just a doll.
Itu dibuktikan bagaimana Time memajang boneka yang umurnya sudah 50-an ini sebagai kaver majalah dan menulis konten yang sangat detail tentang evolusi boneka ini dan dampaknya pada anak-anak, bahkan society. 

For reading Barbie's Time cover stories: http://time.com/barbie-new-body-cover-story/

https://twitter.com/WomenintheWorld/status/692922880951078912
Image from Twitter.com


This is the new Barbie squad. Dari kiri-kanan: Original, Tall, Curvy, Tall, Curvy, Petite.
Dibandingkan dengan foto yang sebelumnya jelas jika Barbie yang sekarang lebih menggambarkan bermacam-macam bentuk tubuh yang ada di dunia nyata.


Saya pernah baca artikel di sebuah majalah tentang pergeseran makna supermodel. Di artikel tersebut disampaikan juga bagaimana Gigi Hadid--yang tadinya merupakan model Sports Illustrated dengan tubuh yang sebenarnya tidak model-like--muncul di runways desainer-desainer ternama pada ajang Fashion Week yang mengubah imej tubuh rata yang selama ini tertempel pada fashion model.

Kenapa hal itu berpengaruh bagi cara pandang masyarakat terhadap imej tubuh sempurna?

Fashion merupakan hal yang cukup penting bagi beberapa perempuan. Bahkan yang paling tidak tertarik dengan fashion saja saya yakin bisa menyebutkan salah satu nama supermodel seperti Claudia Schiffer, Kate Moss, atau bahkan Gia Carangi. Jadi, ya, harus diakui bahwa dengan adanya Gigi Hadid, Cara Delevigne, setidaknya perempuan bisa lebih menerima bentuk tubuh mereka. Yah, walaupun harus diakui Gigi dan Cara tetap punya kaki yang jenjang dan menggiurkan itu.

Well, untuk kedepannya saya punya harapan jika kelak imej tubuh sempurna itu akan lama-lama lebih manusiawi bagi perempuan. Setelah kemunculan supermodel yang tubuhnya tidak model-like, Barbie yang muncul dengan berbagai macam bentuk tubuh, wabah fashion bloggers yang mempunyai bentuk tubuh A-Z, Kim Kardashian, Beyonce, dan model-model seperti Tess Holliday, ada harapan bahwa tak selamanya kalimat 'tubuhnya sempurna bak model' itu merupakan definisi sempurna yang sebenarnya.


Tapi saya masih tetap ingin diet untuk mencapai bentuk tubuh seperti Barbie diatas sih. Atau setidaknya seperti Kim Kardashian yang curvy tapi super hot itu.

Yang jelas saya merupakan salah satu perempuan yang mulai menanamkan bahwa saya ingin mempunyai tubuh yang membuat saya nyaman, bukan membuat lelaki yang merasa nyaman. Misalnya saya akan hidup dengan tubuh ini selamanya, yang sedang berusaha saya bangun adalah gaya hidup sehat. Karena jujur saja, dari segala perdebatan tentang bentuk tubuh, makin kesini saya makin tidak terlalu ambil pusing. Yang saya inginkan bukan bentuk tubuh Kendall Jenner yang menurut saya flawless itu, saya ingin bisa menikmati olah raga sebagai bagian dari gaya hidup.

Itu saja sudah cukup.

Saya sudah sadar kalau punya tubuh Kendall Jenner itu mimpi yang ketinggian. Mending saya mimpi jadi konglomerat saja. Sama-sama tinggi, tapi setidaknya untuk jadi konglomerat itu masih ada opsi untuk menjangkaunya. Salah satunya menggaet suami kaya raya.

Sepertinya tulisan ini harus saya akhiri disini.

No comments:

Post a Comment