FIRST RAIN & BALLAD SONG

Source: Instagram
Tepatnya kemarin, hujan pertama turun di Yogyakarta setelah sekian lama matahari menggempur kota ini dengan limpahan sinar yang luar biasa panasnya. Tidak hanya meruapkan bau tanah yang segar--yang baru-baru ini saya ketahui bukan cuma saya saja yang suka & entah kenapa aroma ini begitu 'romantis' sehingga sering digunakan untuk mendeskripsikan hujan pada novel/karya tulis lainnya--tapi saya jadi merasa agak mellow.

Mungkin karena saat mandi playlist saya Oasis dan The Fray, bukannya K-Pop yang selama ini menemani. Ada perasaan aneh yang muncul ketika hujan, mendung, diiringi lagu-lagu di playlist itu. 

Well, mungkin karena saya juga lagi 'jatuh cinta', jadi begini ya perasaannya. 

Setelah sekian lama hilang dari kancah percintaan dewasa muda, saya kembali dengan perasaan pada seseorang. Secara fisik dia nggak terlalu tampan/sempurna, tapi memenuhi kriteria saya, walaupun dadanya nggak bidang-bidang amat--but who am I to complain? Awalnya karena saya emang dasarnya shallow dan kalau ada yang bening sedikit langsung 'jatuh cinta', tapi kemampuan otak dan pengetahuan luasnya yang membuat saya ingin menelanjanginya lebih jauh. Dalam konteks yang sebenarnya dan dalam arti kiasan.

Saya sudah berdoa pada Tuhan supaya saya dapat kesempatan untuk mengenal lebih jauh. At least, be friends with him. Saya kepingin tahu isi otaknya lebih jelas dan perspektif hidupnya. 

Dan semoga Tuhan menganggap itu jalan terbaik & mengabulkan doa saya.

Satu lagi.

Dua tahun belakangan, November jadi titik balik hidup saya. Pertama perubahan warna rambut di tahun 2014 lalu--well, itu nggak penting sebenarnya--dan yang kedua kecengan baru.

Aih. Kecengan.

He's much older than you and you said kecengan?
Perks of being dewasa muda.

No comments:

Post a Comment