AUTHOR - DEE LESTARI

Picture taken by: Anisah Zuhriyati

Hari Minggu kemarin, saya diundang Bentang Pustaka menghadiri Coaching Clinic bersama Dee Lestari di Solo. Kesempatan ini membuat saya sedikit surprise karena saya tidak menyangka Tuhan memberi bantuan saya untuk kembali menulis proyek yang sedang saya kerjakan dengan bertemu seorang Dee Lestari yang juga penulis dari novel serial favorit saya: Supernova.

Jujur saja, awalnya saya tidak berekspektasi banyak dengan kehadiran seorang Dee yang ingin membagi ilmunya. Saya sudah pernah datang di acara semacam ini, tapi pulang-pulang saya masih saja kosong. Berusaha menyerap apa yang saya dengar tapi yang ada saya malah membuat kesimpulan bahwa setiap penulis punya cara masing-masing untuk menghasilkan tulisan. Makanya, awalnya saya nggak terlalu excited untuk datang.

Tapi.
Yes, saya akhirnya menemukan 'tapi' setelah mendengar semua ilmu-ilmu menulis yang Dee lontarkan siang itu. Tapi-nya adalah, mungkin Dee memang mengatakan bahwa ia belajar secara otodidak, melalui masa-masa trial and error yang cukup ngenes juga, tapi, ia nggak hanya menutupnya dengan, "saya akhirnya hanya terus menulis, saran saya, ya terus menulis agar bisa menulis," begitu kira-kira makan tersirat ketika saya mendengarnya dari penulis-penulis lain yang tentu saja melontarkannya dengan kalimat yang berbeda.

Dee berbeda.

Dee tidak hanya menyarankan agar peserta terus menulis, ia juga mengingatkan bahwa menulis adalah hal yang juga punya dasar-dasar ilmu yang bisa dipelajari. Saya pribadi setuju dengan apa yang Dee katakan.

Bahwa deadline mematikan kreativitas, Dee menyangkalnya dengan berkata, "deadline itu perlu agar kita terus bergerak." Mesin bernama deadline itu memang harus ada untuk membuat penulis tidak beralasan 'belum dapat inspirasi'.





Mungkin apa yang Dee sampaikan memang berbeda, tapi ada beberapa poin-poin yang sama dengan penulis lainnya saat sedang memberikan 'petuah' dalam dunia tulis menulis. Tapi, yang saya suka, Dee menyampaikannya tanpa terlihat, "nih, gue udah nulis banyak buku," atau "buku gue bestseller, nih," seperti yang biasa saya tangkap dari penulis-penulis lainnya. No offense, ini hanya pendapat pribadi saja.

Banyak hal yang saya dapat siang itu. Selain ilmu-ilmu menulis yang saya catat disertai catatan-catatan berbunyi: googling, Li! Belajar Li! Dilatih Li!, saya juga mendapat suntikan semangat untuk kembali menulis. Menulis dengan ilmu, tidak hanya melalui intuisi saja.

Begitulah hari Minggu kemarin saya habiskan.

Terimakasih Dee. Terimakasih Bentang Pustaka. Terimakasih Tuhan.

No comments:

Post a Comment