MY OWN CHRISTIAN GREY

Suatu hari seorang teman kampus saya mengenalkan saya pada novel dengan kaver minimalis, berkesan dark, dengan gambar dasi berwarna abu-abu dan tulisan dengan font sejenis Times New Roman: Fifty Shades of Grey.


Sebelum dipinjamkan novel ini, saya sudah pernah dengar-dengar tentang Fifty Shades of Grey ini, tapi nggak pernah tahu apa sebenarnya isi bukunya seperti apa. Dan akhirnya sebelum memutuskan untuk meminjam, saya diberikan sedikit spoiler dari cerita teman saya dan saya juga baca sinopsis yang ada di belakang buku.



Tiga hal yang bisa saya simpulkan sebelum membaca novelnya:
  1. Very rich and attractive man who'll stole my heart--and he did--as the main character.
  2. Plain woman, has innocent quality on her as the protagonist.
  3. An erotic and romantic novel.
Well, karena saya selalu tertarik dengan hal-hal berbau dewasa, porn, sex, and stuffs, saya tertarik dan akhirnya membaca novel ini. Harus saya akui kalau novel ini bukan novel yang bagus banget nget nget. Cerita awalnya membosankan dan banyak hal yang membuat saya gregetan dengan si tokoh ceweknya. Bayangkan novel ini mengambil setting waktu di tahun 2011, tapi tokoh ceweknya nggak punya laptop. Dia harus pinjam temannya kalau ada tugas kuliah--dan akhirnya dibeliken Mac oleh Grey ketika dia menyuruh Ana untuk browsing tentang hal-hal yang terdapat di kontrak 'kerja' mereka.

Udah gitu si Ana ini juga suka pinjam dress teman satu apartemennya, Kate, kalau mau date dengan Grey. Ya, walaupun ini hal kecil, tapi saya nggak begitu suka dengan Ana yang kelihatan helpless dan apa ya, kalau ada di dunia nyata dia pasti orang yang klemak-klemek, bisanya cuma ya-ya-ya saja, dan yang jelas pastinya saya bakal banyak menghujat dia, hehe.

Tapi, lupakan soal hal-hal yang saya tidak suka, kurang mengena di hati, tidak masuk akal dan hal-hal teknis kepenulisan yang membosankan di sepanjang cerita ini. Saya nggak akan membahas itu semua. Di postingan ini saya ingin cerita aja apa yang saya dapat, apa yang membuat saya berpikir saya mungkin bisa menemukan Christian Grey versi saya.

Sebenarnya saya dan Ana itu sebelas dua belas--maaf ya ngaku-ngaku. Tapi saya melihat diri saya tergambar di diri Ana terlepas dari fisik yang jauh berbeda, ya. Saya itu orang biasa-biasa saja seperti Ana. Punya kehidupan yang biasa-biasa juga. Keadaan ekonomi yang juga biasa-biasa. Dan kami berdua kebetulan tertarik dengan dunia sastra. Oya satu lagi, saya juga lebih memilih ke London daripada ke Paris.

Semua hal itu membuat saya diam-diam menginginkan ada seorang Christian Grey yang tertarik dengan saya. Dia bisa melihat saya bukan hanya Lia yang biasa-biasa saja. Dia bisa melihat kualitas saya bukan hanya dari fisik, tapi juga cara berpikir, care enough to know my habits. The good and the bad. Seorang Christian Grey yang sedikit vulnerable dan tentu saja orang yang sedikit misterius. Misterius ya, tapi bukan completely hiding his emotion. Kalau ditanya kenapa tetap jawab. Dingin dingin tapi hangat. Bukan tipe laki-laki yang banyak omong dan rumpi. Sedikit pendiam, lebih baik.

Dan tentunya very very very good on bed dan tahu apa yang sedang dia lakukan dan memberikan saya orgasme.

Mungkin cerita Ana yang bertemu Grey karena nggak sengaja mewawancarai nggak terjadi di hidup saya--dan sejujurnya saya juga nggak ingin seperti itu. Saya ingin bertemu dengan Christian Grey saya ketika saya bisa berdiri dengan kaki sendiri, tidak bergantung secara ekonomi dengan siapapun, termasuk Christian Grey saya sampai dibelikan mobil dan laptop. Oke, mungkin nggak apa-apa kalau dibelikan hal-hal seperti itu, tapi setidaknya saya punya dulu dengan hasil jerih payah saya, bukannya tiba-tiba dapat gitu aja. Hal-hal seperti itu hadiah yang dipakai sesekali saja, bukan menjadi hal-hal yang saya pakai sehari-hari. Menurut saya itu yang ideal.

Cerita Ana mungkin terlihat indah ketika ditulis di novel, tapi saya yakin banget kalau di dunia nyata, society bakal dengan senang hati memberikan cap dan label macam-macam pada wanita seperti Ana. Ya, kalian tahu sendiri kan, pergaulan kelas atas itu sulitnya bukan main. Walaupun saya selalu berpegang pada 'tidak mendengar kata orang lain apalagi yang tidak mengenal saya dengan baik', tapi saya tidak ingin hidup di bayang-bayang nama besar laki-laki saya.

Jadi begitulah, saya jelas terpesona dengan seluruh paket bernama Christian Grey. Dengan segala cerita hidupnya, masa lalunya, kemampuannya di tempat tidur. Tapi saya ingin menjadi Anastasia Steel yang lebih tangguh untuk mendapatkannya.

No comments:

Post a Comment