January 16, 2014

IRIAN (TIDAK) JAYA

Image Source: Google

Saya mau mengakui kalau sepanjang 2013 saya dengan angkuhnya berkata bahwa rasa iri saya merupakan pondasi saya untuk membangun kesuksesan.
Tapi setelah 2013 lewat, saya nggak mau lagi bangga dengan rasa iri itu. Selama saya hidup mungkin nggak akan pernah bisa dihapus si penyakit hati itu, tapi saya yakin, ada penawarnya.

Masih dalam rangka tahun baru, saya ingin menekankan pada diri saya sendiri maupun orang-orang yang membaca postingan sok penting ini bahwa iri bisa jadi pondasi untuk membangun kesuksesan, tapi percaya deh, kesuksesan yang dibangun berdasar iri bakal membuat hidup rasanya kurang terus.

Sampai sini saya pengen bunuh diri liat kelakuan sok tahu ini.

Tapi ini yang saya dapat ketika tahun lalu membangun pondasi itu berdasarkan rasa iri yang berlebihan di hati. Untung saja saya belum dalam taraf pendengki, yang nggak suka kalau orang senang dan senang liat orang sedih. Saya sebatas iri dan jatuhnya menyalahkan diri saya yang nggak berguna.

Tahun kemarin saya iri dengan penulis yang lebih muda daripada saya karena mereka sudah bisa menelurkan karya atau orang-orang yang bisa sukses di bidangnya masing-masing padahal usianya di bawah saya. Saya merasa saya nggak berguna. Keirian saya itu membuat saya lebih banyak merutuk daripada berkarya ternyata.

Saya koreksi pernyataan saya yang ada di paragraf kedua. Mungkin sebagian orang bisa membangun kesuksesannya berdasar perasaan irinya, tapi saya bukan termasuk di dalamnya. Karena bagi saya, rasa iri itu malah membunuh keinginan untuk maju dan menumbuhkan rasa marah pada diri sendiri.

Sudah saya bilang saya ini orang yang keras pada diri sendiri, kan?

Untuk hal-hal begini saya keras sekali pada diri saya. Standar tinggi ditetapkan oleh diri saya sendiri untuk diri saya. Tapi lagi-lagi standar itu berdasarkan rasa iri melihat kesuksesan orang lain. Padahal saya percaya kesuksesan orang itu jalannya berbeda.

Mungkin saya bukan orang karismatik di media online, jadi saya nggak bisa jadi selebtwit atau sebangsanya yang bisa cari duit hanya dengan ngiklan di media sosial.
Mungkin saya bukan seseorang dengan kemampuan menulis puitis, jadi saya nggak bisa jadi penulis yang bisa menggambarkan dengan apiknya melalui kata-kata dengan cita rasa tinggi. Saya dilahirkan sebagai si cablak. Tanpa basa-basi.
Mungkin saya bukan orang yang novel pertamanya langsung booming dan langsung mengantarkan saya ke daftar nominasi Khatulistiwa Award sebagai penulis terbaik atau semacamnya.

Mungkin saya hanya perlu menikmati.
Menikmati waktu yang diberikan untuk bekerja keras tanpa harus iri melihat kesuksesan orang lain.
Saya yakin yang saya perlukan hanya fokus pada diri sendiri.
Menggali potensi, mengasah kemampuan agar saya tahu talenta apa yang saya miliki.

Sebagai orang irian saya ingin insyaf.
Iri memang manusiawi, tapi setidaknya mulai saat ini saya nggak mau terbawa emosi hingga mengutuk diri sendiri karena rasa iri.

Doakan saya sembuh dari iri berlebihan ya.

No comments:

Post a Comment