TWENTY SEVENTEEN

Jika menengok ke empat tahun terakhir saya nggak percaya jika empat tahun sudah saya lalui dengan banyak pertanyaan yang hingga saat ini terjawab. Pertanyaan-pertanyaan yang membuat empat tahun terasa sangat cepat padahal tak ada progress dalam hidup yang terlihat nyata, yang terlihat menjanjikan untuk kecerahan masa depan.

Dalam kurun empat tahun ini saya bolak-balik masuk kuliah. Awalnya masuk, berusaha fit in, tak sanggup meneruskan, lalu keluar. Tapi di tahun berikutnya saya sudah kembali lagi, berusaha keras untuk betah dengan apapun jalan terjal yang ada di depan, bertahan satu semester, lalu kembali keluar. Dua kali saya bolak-balik masuk kuliah. Mungkin pihak kampus sampai geleng-geleng, "Kok ada mahasiswi labil seperti saya."

Alasan saya keluar dari awal sama, saya tak bisa melihat sedikit saja cahaya dalam jalanan yang pantas saya deskripsikan, "Terjal, bergelombang, hingga mual mau muntah." Saya akui mata kuliahnya beberapa cocok untuk saya, pengajarnya juga kompeten. Bahkan tanpa banyak usaha saya bisa dapat IPK yang sangat memuaskan. 

Semua orang bakal mengatakan saya ini banyak mau, nggak bisa mensyukuri apa yang ada, atau apa lah pernyataan-pernyataan yang sejujurnya sampai sekarang masih memenuhi diri saya. Yang juga saya berikan pada diri saya, hingga saya menghakimi diri saya sendiri. There's something inside that telling me this bad bad bad stuffs, that weighs my bag even more. Tas saya berat banget, cyin. Dan dengan itu saya membayangkan orang-orang akan mengatakan, "Ya elah, cemen amat," or something like that.

Empat tahun dihabiskan teman-teman sebaya saya untuk kuliah, berkarya, mencari pengalaman untuk CV. Empat tahun yang seharusnya juga saya habiskan untuk melakukan hal-hal produktif dan bisa membuat saya sekarang duduk, pusing memikirkan skripsi. Bukannya duduk, memikirkan saya akan jadi apa? Apa yang bisa saya lakukan untuk menjadi mandiri? Atau bertanya-tanya pada diri sendiri, "Kenapa hidup ini kok nggak on track? Melipir jauh amat kamu, Li!"

Empat tahun kemarin selalu saya awali dengan semangat. Seberat apapun tahun sebelumnya saya merasa yakin jika tahun baru akan membawa harapan baru. Saya tak menyadari jika empat tahun itu saya menelan pil omong kosong 'New Year New Me' dan berharap semua akan baik-baik saja. But here I am, weeping. Padahal baru aja selesai menstruasi, jadi nggak mungkin semua emosi ini bergumul dan menyesakkan karena hormon. Jadi boleh dibilang saya lagi frustasi karena empat tahun ini tak bisa menggeret tas saya untuk berjalan bersama. Saya belum ikhlas punya tas seberat itu sebagai teman perjalanan.

Awalnya saya ingin membuat tulisan awal 2017 yang penuh harapan dan berselimut aura positif. Tapi saya malah curhat panjang lebar. Mengeluh tentang tas. Mengeluh tentang empat tahun hidup saya kemarin.

Jika ditanya apakah empat tahun kemarin benar-benar buruk? Jauh dari itu. Nggak buruk, banyak hal yang membuat saya senang. Saya membuat keputusan-keputusan besar yang membuat lega, yang membuat saya terlepas dari belenggu. Tapi ya konsekuensinya nggetok saya berkali-kali sampai lebam. Konsekuensinya membuat saya makin punya banyak tas untuk dibawa jalan yang hingga saat ini masih belum menemukan tujuan. Dan harusnya saya nggak banyak mengeluh soal ini.

But man, life hits me really hard. Life hits everyone really hard, I guess. Sayanya aja yang masih nggak terima dipukul keras-keras. Masih marah dan penuh kekesalan.


Menjelang minggu kedua Januari, saya benar-benar dipenuhi oleh rasa putus asa. There I said it. Perasaan yang kadang membuat diri saya sendiri takut karena jadi membawa opsi yang gitu lah pokoknya. Saya pun ngeri sendiri kalau diri saya lagi kepikiran opsi ekstrim itu. 

Menjelang minggu kedua Januari saya merasa jika mungkin 2017 akan menjadi satu tahun yang akan saya habiskan bergumul dengan diri saya lagi. Tak melangkah kemanapun. Tak memberikan sebersit saja rasa semangat dan opstimis jika akan mendapatkan cahaya di ujung jalan. Mendapatkan tujuan. Tak menjadi labil kembali.

Mengakhiri tulisan menyedihkan yang super cringe worthy ini, saya akan menutupnya dengan sebuah gambar.


WRITING PLAYLIST

Sebenarnya saya nggak pernah membuat writing playlist yang khusus untuk membangun mood ketika menulis. Entah lah, saya bukan tipikal yang suka menulis dengan diiringi lagu-lagu, justru makin tenang makin bagus. Tapi akhir-akhir ini saya harus menulis di keramaian karena deadline mengintai dan kebetulan saya banyak aktivitas, jadi alternatif untuk membuat saya nggak melamun dan memandangi orang yang sedang berada di sekitar saya adalah menyumpal telinga dengan lagu-lagu. 

Sebagai orang yang lebih suka ketenangan dalam menulis, ternyata saya cukup bisa beradaptasi dengan cara menulis baru ini. Intinya satu sih, saya harus nggak tahu lirik lagu yang saya sedang dengarkan. Kalau saya hafal yang ada saya malah menghayati dan ikut menyanyi. So, lima lagu ini adalah lagu yang sering saya putar ketika menulis:






Saya lagi jatuh cinta dengan Tony Bennet. Pertama kali kenal gara-gara Lady Gaga kolaborasi sama beliau, terus lihat di film dokumenter nya Amy Winehouse, terus search di Spotify dan ternyata saya suka!

Emang sih, dasarnya saya itu paling suka dengan suara saksofon, piano, pokoknya demen banget sama background music di film-film klasik kayak Breakfast at Tiffany's, James Bond jaman-jaman Sean Connery, yang banyak memakai instrumen yang saya sebutkan tadi. Jadi waktu dengan Tony Bennet saya langsung download satu album itu.

The Corrs itu wajib masuk ke dalam playlist favorit apa saja. Pokoknya cinta lah sama mereka. Suka lagunya, suka permainan instrumennya, kalau dengerin mereka jadi nostalgia dan kadang kepingin gitu bisa main flute atau biola sekeren mereka.

Dua lagu terakhir itu saya diperkenalkan oleh teman saya. Sejak nonton The Perks of Being Wallflower saya kok rada-rada suka sama lagu-lagu yang jadi soundtrack-nya, jadi saya tanya lah teman saya yang kebetulan pengetahuan tentang musik indie pop-nya jauh lebih tinggi dibanding saya. Dan sebenarnya saya punya banyak lagu yang menjadi favorit, jadi mungkin saya bakal share di lain kesempatan saja ya.

Alright, jadi ini lima lagu yang sering saya putar ketika berusaha menulis di keramaian. Yang lumayan bikin saya jadi agak fokus tapi kadang jadi berimajinasi saya sedang ada di salah satu film-film gitu karena nulis pake dengerin lagu--random banget kan, ya? Anyway, hari ini adalah hari terakhir bulan Juli, nggak kerasa udah Agustus aja ya. Setahun cepat sekali berlalu, padahal kayaknya saya baru selesai rampung naskah, sibuk-sibuk promo, dan sekarang udah tengah tahun aja. Semoga di bulan Agustus saya lebih bisa produktif dan semoga Tuhan memberkati kita semua!