October 21, 2017

LIMA TAHUN MENULIS CINTA


Terakhir kali menulis di blog saya masih bimbang menanggalkan status 'lulusan SMA' demi keberlanjutan hidup. Dilahirkan menjadi orang yang optimis, saya tidak pernah menyangka kalau hidup bisa segila itu. Ibaratnya saya disuruh Tuhan masuk ke dalam lubang hitam tanpa sedikitpun cahaya. Tapi sepertinya bakal sia-sia juga jika punya lilin atau senter, sih, karena saya juga tidak tahu kemana harus menuju.

Dan saya tahu, ini baru permulaan hidup. Tuhan bakal ngakak sampai guling-guling kalau begini saja saya sudah mengeluh. Jadi, mari nikmati hidup yang seperti kopi ini. Tak terlalu saya suka karena pahit dan ya, enakan air putih, tapi kudu diminum dan coba dinikmati juga.

Oya, paragraf pembuka yang saya tulis menyiratkan jika sekarang saya agak cerah masalah perkuliahan, ya. Padahal nggak juga. Intinya saya masih juga seperti dulu. Kalau lagi down, mulai nyala itu mode mempertanyakan arti kuliah diikuti dengan ketakutan-ketakutan yang begitu menjemukan dan melelahkan. Dan sejujurnya salah satu ketakutan yang hingga saat ini masih ada adalah fakta jika status mahasiswa baru ini adalah hasil dari pemikiran singkat saya.

Teman-teman saya yang tahu betapa kusutnya isi otak ini sampai heran. Biasanya saya yang kalau mikir kebanyakan sampai nggak jalan-jalan kok tiba-tiba banting setir memutuskan untuk kembali kuliah hanya dalam hitungan beberapa minggu? Tanpa banyak omong langsung beraksi beli kumpulan soal, belajar giat, dan untungnya terbayar dengan lolosnya saya masuk ke kampus yang berusaha saya cintai itu. Diam-diam keheranan teman-teman itu membuat saya rajin memupuk semangat disertai doa bahwa ini bukanlah keputusan yang nantinya akan saya sesali lagi.

Lalu, ditengah-tengah kegilaan menjadi mahasiswa tingkat pertama ini, saya menyelipkan harapan bahwa keputusan grasa-grusu ini menyimpan cerita roman yang bakal saya nikmati. Luar biasa emang si otak. Racun menye-menye sudah begitu menyebar, nggak bisa lagi ditolong dengan logika yang eksistensinya di hidup saya mulai bangkit dan menunjukkan kekuatannya.

Begini mungkin kalau kebanyakan plotting cerita cinta, ya. Segalanya dihubungkan dengan mencari partner hidup. Sok-sok ngomongin teman sepantaran yang tujuan hidupnya menyegerakan hubungan seksual yang sah lalu bereproduksi, padahal saya juga pikirannya sebelas dua belas. Sok-sok membantah arti cinta dalam hidup yang terlalu diromantisasi, tapi pikiran saya penuh dengan ide cerita bagaimana si tokoh utama bakal jatuh cinta dengan tokoh lainnya.

Tahun ini adalah tahun kelima saya meniti karir sebagai penulis roman. Dan tidak disangka ternyata selama ini saya termasuk produktif mengeluarkan karya. Terima kasih pada uang royalti yang menjadi cheerleader utama bagi kelanjutan permainan ini. Jika penulis atau seniman lain tahu ini alasan saya untuk terus menulis, mampus lah, saya. Uang dalam seni itu bisa dibilang musuh dalam selimut. Namun, jujur saja, kalau bukan uang royalti mungkin saya sudah menyerah jauh-jauh hari.

Permasalahannya adalah, saya selalu tak menemukan alasan bagi calon pembaca untuk membeli karya saya. Rasa excited ketika dikirimi cetakan pertama itu lalu tertutup oleh bayangan rasa malu karena merasa cerita saya kok ya gitu-gitu aja. Saya tahu jika penulis memang tak seharusnya merasa puas atas karyanya. Karena itu artinya proses belajar akan terhenti. Tapi apakah perasaan saya yang seperti ini memang lumrah dirasakan oleh penulis lainnya?

Lima tahun sudah saya bergelut dengan segala keinginan untuk menyerah.
Lima tahun saya terus mengkerdilkan diri karena hasil karya yang seperti sampah.
Lima tahun saya mencari pembenaran atas apa yang saya lakukan.
Lima tahun saya berusaha untuk terus berjalan dengan bahan bakar uang royalti yang sebenarnya tak seberapa itu.

Jadi, apa yang saya dapat dari lima tahun menulis tentang orang jatuh cinta? Selain royalti, tentunya.

Bahwa saya adalah pengkritik paling pedas dan tak punya perasaan.
Juga kesadaran jika saya harus terus konsisten dan menekuni dunia penulisan ini. 
Dan untuk merayakan momen ini, sebuah janji dibuat. Lima tahun ke depan, saya berjanji akan duduk menulis tulisan berjudul 'Sepuluh Tahun Menulis Cinta'.

January 13, 2017

TWENTY SEVENTEEN

Jika menengok ke empat tahun terakhir saya nggak percaya jika empat tahun sudah saya lalui dengan banyak pertanyaan yang hingga saat ini terjawab. Pertanyaan-pertanyaan yang membuat empat tahun terasa sangat cepat padahal tak ada progress dalam hidup yang terlihat nyata, yang terlihat menjanjikan untuk kecerahan masa depan.

Dalam kurun empat tahun ini saya bolak-balik masuk kuliah. Awalnya masuk, berusaha fit in, tak sanggup meneruskan, lalu keluar. Tapi di tahun berikutnya saya sudah kembali lagi, berusaha keras untuk betah dengan apapun jalan terjal yang ada di depan, bertahan satu semester, lalu kembali keluar. Dua kali saya bolak-balik masuk kuliah. Mungkin pihak kampus sampai geleng-geleng, "Kok ada mahasiswi labil seperti saya."

Alasan saya keluar dari awal sama, saya tak bisa melihat sedikit saja cahaya dalam jalanan yang pantas saya deskripsikan, "Terjal, bergelombang, hingga mual mau muntah." Saya akui mata kuliahnya beberapa cocok untuk saya, pengajarnya juga kompeten. Bahkan tanpa banyak usaha saya bisa dapat IPK yang sangat memuaskan. 

Semua orang bakal mengatakan saya ini banyak mau, nggak bisa mensyukuri apa yang ada, atau apa lah pernyataan-pernyataan yang sejujurnya sampai sekarang masih memenuhi diri saya. Yang juga saya berikan pada diri saya, hingga saya menghakimi diri saya sendiri. There's something inside that telling me this bad bad bad stuffs, that weighs my bag even more. Tas saya berat banget, cyin. Dan dengan itu saya membayangkan orang-orang akan mengatakan, "Ya elah, cemen amat," or something like that.

Empat tahun dihabiskan teman-teman sebaya saya untuk kuliah, berkarya, mencari pengalaman untuk CV. Empat tahun yang seharusnya juga saya habiskan untuk melakukan hal-hal produktif dan bisa membuat saya sekarang duduk, pusing memikirkan skripsi. Bukannya duduk, memikirkan saya akan jadi apa? Apa yang bisa saya lakukan untuk menjadi mandiri? Atau bertanya-tanya pada diri sendiri, "Kenapa hidup ini kok nggak on track? Melipir jauh amat kamu, Li!"

Empat tahun kemarin selalu saya awali dengan semangat. Seberat apapun tahun sebelumnya saya merasa yakin jika tahun baru akan membawa harapan baru. Saya tak menyadari jika empat tahun itu saya menelan pil omong kosong 'New Year New Me' dan berharap semua akan baik-baik saja. But here I am, weeping. Padahal baru aja selesai menstruasi, jadi nggak mungkin semua emosi ini bergumul dan menyesakkan karena hormon. Jadi boleh dibilang saya lagi frustasi karena empat tahun ini tak bisa menggeret tas saya untuk berjalan bersama. Saya belum ikhlas punya tas seberat itu sebagai teman perjalanan.

Awalnya saya ingin membuat tulisan awal 2017 yang penuh harapan dan berselimut aura positif. Tapi saya malah curhat panjang lebar. Mengeluh tentang tas. Mengeluh tentang empat tahun hidup saya kemarin.

Jika ditanya apakah empat tahun kemarin benar-benar buruk? Jauh dari itu. Nggak buruk, banyak hal yang membuat saya senang. Saya membuat keputusan-keputusan besar yang membuat lega, yang membuat saya terlepas dari belenggu. Tapi ya konsekuensinya nggetok saya berkali-kali sampai lebam. Konsekuensinya membuat saya makin punya banyak tas untuk dibawa jalan yang hingga saat ini masih belum menemukan tujuan. Dan harusnya saya nggak banyak mengeluh soal ini.

But man, life hits me really hard. Life hits everyone really hard, I guess. Sayanya aja yang masih nggak terima dipukul keras-keras. Masih marah dan penuh kekesalan.


Menjelang minggu kedua Januari, saya benar-benar dipenuhi oleh rasa putus asa. There I said it. Perasaan yang kadang membuat diri saya sendiri takut karena jadi membawa opsi yang gitu lah pokoknya. Saya pun ngeri sendiri kalau diri saya lagi kepikiran opsi ekstrim itu. 

Menjelang minggu kedua Januari saya merasa jika mungkin 2017 akan menjadi satu tahun yang akan saya habiskan bergumul dengan diri saya lagi. Tak melangkah kemanapun. Tak memberikan sebersit saja rasa semangat dan opstimis jika akan mendapatkan cahaya di ujung jalan. Mendapatkan tujuan. Tak menjadi labil kembali.

Mengakhiri tulisan menyedihkan yang super cringe worthy ini, saya akan menutupnya dengan sebuah gambar.